7. Kisah lima biji jeruk

Posted on 23 Februari 2011


Ketika aku melihat-lihat catatanku dan membaca kasus-kasus Sherlock Holmes antara tahun 1882 dan 1890, aku menemukan begitu banyak kasus-kasus aneh dan menarik sehingga aku mengalami kesulitan untuk memilih mana yang bagus. Beberapa kasus telah mendapat publisitas melalui koran, sedang yang lainnya tidak. Ada beberapa kasus yang tak terpecahkan, ada pula yang terpecahkan sebagian, dan penjelasannya hanya sampai pada dugaan dan prasangka ketimbang bukti logis absolut yang biasanya dia paparkan. Tapi ada satu kasus yang detilnya begitu luar biasa dan hasilnyapun sangat mengejutkan sehingga aku tergoda untuk memilihnya meskipun kenyataannya ada beberapa poin yang tidak pernah, dan mungkin tidak akan pernah, terpecahkan seluruhnya.

Sepanjang tahun 1887 kami disibukkan oleh serentetan panjang kasus, yang catatannya tetap aku simpan. Diantaranya adalah kasus Ruang Paradol, milik Amateur Mendicant Society, yang mengelola klub mewah di bawah gudang furniture, yang terkait dengan hilangnya kapal Inggris Sophy Anderson; kemudian kasus petualangan Grice Patersons di pulau Uffa; dan akhirnya kasus peracunan Camberwell. Dalam kasus terakhir ini, seingatku, Sherlock Holmes berhasil, dengan menggunakan jam milik si orang yang mati, membuktikan bahwa orang itu terkena racun 2 jam sebelumnya, dan bahwa kemudian dia pergi tidur — suatu deduksi yang sangat membantu dalam memecahkan kasus itu. Semua cerita itu akan aku jelaskan di hari-hari mendatang, tapi tidak ada satupun dari cerita yang kusebutkan di atas yang menampilkan rincian istimewa seperti yang akan aku ceritakan berikut ini.

Saat itu akhir September, dan angin ribut berhembus dengan keganasan luar biasa. Sepanjang hari angin menjerit dan hujan menerpa jendela, sehingga bahkan disini di tengah kota besar seperti London ini kami dipaksa berpikir ulang untuk menjalankan kehidupan sehari-hari dan menyaksikan kehadiran kekuatan alam yang memekik kepada umat manusia melalui jeruji peradabannya, seperti binatang buas dalam kurungan. Ketika malam menjelang, badai bertambah besar dan ganas, dan angin menjerit dan menangis seperti seorang anak di cerobong asap. Sherlock Holmes duduk di satu sisi perapian sedang membolak-balik catatan kasusnya, sedang aku di sisi yang lain tenggelam dalam cerita mengenai lautan karya Clark Russel sehingga badai di luar seolah menyatu dengan teks cerita, dan cipratan air hujan terasa seolah semburan gelombang laut yang tinggi. Istriku sedang mengunjungi ibunya, dan untuk beberapa hari aku kembali tinggal di Baker Street.

“Eh,” kataku sambil menoleh ke temanku, “itu jelas suara bel. Siapa yang datang malam-malam? Temanmu, mungkin?”

“Aku tak punya teman kecuali dirimu,” jawabnya. “Aku tidak sedang menunggu tamu.”

“Kalau begitu seorang klien?”

“Jika benar, maka pasti kasusnya serius. Kasus biasa tak akan bisa membuat orang keluar rumah di hari dan jam seperti ini. Tapi aku kira itu adalah teman ibu kost.”

Akan tetapi dugaan Sherlock Holmes keliru, karena terdengar langkah mendekat dan ketukan di pintu. Dia meminggirkan lampu baca dan berjalan menyiapkan kursi kosong untuk sang tamu.

“Silakan masuk!” katanya.

Orang yang masuk ini masih muda, sekitar 22 tahun, terurus dengan baik dan berpotongan ramping, dengan suatu pancaran yang halus dan murni dalam penampilannya. Payung yang bercucuran air di tangannya, dan jubah tahan air-nya yang panjang memperlihatkan keganasan cuaca di luar. Dia nampak gelisah, dan aku dapat melihat wajahnya yang pucat dan matanya yang letih, seperti orang yang terbebani oleh suatu kekhawatiran besar.

“Saya minta maaf,” katanya sambil memasang kacamata emasnya. “Saya harap saya tidak mengganggu. Saya khawatir telah mengotori ruangan anda dengan sisa-sisa badai dan hujan.”

“Berikan mantel dan payung anda, kata Holmes. “Ini bisa dicantolkan disini dan akan kering segera. Anda datang dari barat daya, saya kira.”

“Ya, dari Horsham.”

“Campuran lumpur dan kapur di sepatu anda memang nampak berbeda.”

“Saya datang untuk minta saran.”

“Itu mudah didapat.”

“Dan pertolongan.”

“Yang itu tidak selalu mudah.”

“Saya telah mendengar tentang anda, Mr. Holmes. Saya dengar dari Mayor Prendergast bagaimana anda menyelamatkannya dalam skandal klub Tankerville.”

“Ah, ya. Dia yang keliru dituduh berlaku curang dalam permainan kartu.”

“Dia bilang bahwa anda bisa menyelesaikan apa saja.”

“Dia membual.”

“Bahwa anda tidak pernah kalah.”

“Saya telah kalah 4 kali – 3 kali oleh pria, dan sekali oleh wanita.”

“Tapi apa artinya itu dibanding dengan keberhasilan anda?”

“Benar bahwa pada umumnya saya berhasil.”

“Kalau begitu anda kemungkinan berhasil juga dengan saya.”

“Saya mohon anda menggeser kursi anda ke perapian dan memberikan rincian kasus anda.”

“Ini bukan kasus biasa.”

“Tidak satupun kasus yang datang kepada saya berupa kasus biasa. Seringkali saya menjadi orang yang terakhir dimintai pertolongan.”

“Dan saya betanya-tanya, pak, apakah, sepanjang pengalaman anda, anda pernah mendengar rentetan kejadian yang lebih misterius dari pada yang terjadi pada keluarga saya.”

“Anda membuat saya penasaran,” kata Holmes. “Silakan anda ceritakan dari awal, dan setelah itu saya akan menanyakan kepada anda rincian yang saya anggap penting.”

Pria muda ini menarik kursinya dan melunjurkan kakinya yang basah ke dekat perapian.

“Nama saya,” katanya, “John Openshaw, tapi saya pribadi, sejauh yang saya pahami, sedikit terkait dengan urusan yang mengerikan ini. Ini adalah masalah turun temurun; jadi agar anda bisa paham secara lengkap, saya harus kembali ke awal mula kejadian.

“Anda perlu tahu bahwa kakek saya punya dua anak laki-laki — paman saya Elias dan ayah saya Joseph. Ayah saya punya pabrik kecil di Coventry, yang kemudian diperluas saat itu menjadi pabrik sepeda. Dia adalah pemilik paten ban Openshaw, dan bisnisnya sangat berhasil hingga dia bisa menjualnya dan pensiun dengan hasil yang sangat cukup.

“Paman saya Elias beremigrasi ke Amerika ketika masih muda dan menjadi pekebun di Florida, dimana saya dengar dia sangat berhasil disana. Di waktu perang saudara dia bertempur dalam pasukan Jackson, dan kemudian di bawah Hood, dimana dia naik pangkat menjadi kolonel. Ketika Lee menyerah paman saya kembali ke perkebunannya, dimana dia tinggal selama 3 atau 4 tahun. Sekitar tahun 1869 atau 1870 dia kembali ke Eropa dan mengambil rumah kecil di Sussex, dekat Horsham. Dia telah cukup berhasil di Amerika, dan alasannya pindah adalah penolakannya terhadap kaum negro, dan ketidak-sukaannya dengan kebijakan Republic yang memperluas franchise (kepemilikan) kepada mereka. Dia orang yang istimewa, ganas dan cepat naik darah, sangat kotor mulutnya saat marah, dan suka menyendiri. Selama dia tinggal di Horsham, saya ragu apakah dia pernah melangkahkan kakinya ke kota. Dia punya sebuah kebun dan 2 atau 3 bidang tanah di sekeliling rumahnya, dan disitulah dia melakukan kegiatannya, meskipun seringkali selama berminggu-minggu dia tidak pernah berkumpul bersama teman dan tidak mau punya teman, bahkan saudaranya sendiri juga tidak.

“Dia tidak keberatan dengan saya; bahkan, dia suka kepada saya, meskipun saat dia pertama kali melihat saya usia saya baru 12 tahun atau lebih. Ini terjadi di tahun 1878, sesudah dia tinggal selama 8 atau 9 tahun di Inggris. Dia meminta ayah saya agar mengijinkan saya tinggal bersamanya dan dia sangat baik kepada saya. Saat dia tenang dan waras dia suka bermain backgammon dan perang-perangan dengan saya, dan dia menjadikan saya wakilnya baik kepada para pelayan maupun kepada para pedagang, sehingga saat saya berusia 16 tahun saya sudah menjadi penguasa rumah. Saya memegang semua kunci dan bisa pergi kemana saya suka dan melakukan apa yang saya suka, selama saya tidak mengganggu privasinya. Tapi ada satu pengecualian, dia punya satu kamar, ruangan berdinding kayu di loteng, yang selalu terkunci, dan tak seorangpun termasuk saya diijinkan masuk. Dengan rasa ingin tahu seorang anak saya mengintip melalui lubang kunci, tapi saya tidak pernah bisa melihat yang lain kecuali sekumpulan koper tua dan gulungan kertas.

“Suatu hari — di bulan Maret tahun 1883 — sebuah surat dengan perangko asing terletak di meja di depan piring kolonal. Bukan hal yang biasa baginya menerima surat, karena tagihannya semua dibayar langsung, dan dia tidak punya teman seorangpun. ‘Dari India!’ katanya saat dia mengambilnya, ‘Stempel Pondicherry! Ada apa ini?’ Ketika dia buka dengan tergesa-gesa, dari dalam amplop melompat 5 buah biji jeruk yang kecil dan kering, yang menggelinding di atas piringnya. Saya sudah akan tertawa melihat hal itu, tapi tawa saya lenyap dari bibir saat melihat wajahnya. Bibirnya menggantung, matanya terbelalak, warna kulitnya berubah pucat, dan dia memelototi amplop yang masih dia pegang dengan tangannya yang gemetar, ‘K.K.K.!’ dia memekik, dan kemudian, ‘Tuhanku, Tuhanku, dosa-dosaku telah mengejarku!’

” ‘Apa itu, paman?’ seruku.

” ‘Kematian,’ katanya, dan bangkit dari meja dia masuk ke kamarnya, meninggalkan saya yang berdebar ketakutan. Saya mengambil amplop dan melihat tulisan cakar ayam dengan tinta merah di tutup amplop sebelah dalam, persis di atas perekat, huruf K diulang 3 kali. Tidak ada lagi yang lain kecuali lima biji jeruk yang kering. Apa yang dia takutkan? Saya meninggalkan meja makan, dan ketika saya menaiki tangga saya berpapasan dengan dia yang turun, dengan tangan yang satu memegang kunci tua berkarat, yang pasti kunci loteng, dan tangan yang lain membawa kotak kuningan, mirip kotak uang.

” ‘Mereka boleh melakukan yang mereka suka, tapi saya tetap akan men-skak-mat mereka,’ katanya bersumpah. ‘Bilang Mary bahwa saya akan memerlukan api di kamar hari ini, dan panggil Fordham, si pengacara Horsham.’

“Saya lakukan yang dia minta, dan ketika si pengacara tiba saya diminta masuk ke kamar. Api menyala besar, dan di tempat memanggang terdapat seonggok abu kertas, sementara kotak kuningan dalam keadaan terbuka dan kosong di sebelahnya. Ketika saya melirik ke kotak saya melihat dengan kaget, bahwa di tutupnya tercetak 3 kali huruf K seperti yang saya baca tadi pagi di amplop.

” ‘Aku mengharapkanmu, John,’ kata paman saya, memberikan wasiatnya. ‘Aku tinggalkan tanah milikku, beserta seluruh isinya, kepada saudaraku, ayahmu, yang pada saatnya nanti, pasti diwariskan kepadamu. Jika kamu bisa menikmatinya dengan damai, itu bagus sekali! Jika ternyata tidak, ambil saranku, anakku, dan berikan semua itu kepada musuhmu yang paling mematikan. Maaf karena harus memberimu warisan bermuka dua, tapi saya tidak bisa bilang kemana jalan simpang ini mengarah. Sebaiknya kamu tandatangani surat yang ditunjukkan Mr. Fordham padamu.’

“Saya tandatangani surat itu, dan kemudian si pengacara membawanya. Kejadian yang istimewa ini meninggalkan kesan yang mendalam pada saya, saya terus merenungkannya dan mencari tahu penjelasannya tanpa berhasil sedikitpun. Saya tetap tidak bisa menghilangkan samar-samar perasaan takut yang ditinggalkannya, meskipun sensasinya semakin mengecil setelah lewat beberapa minggu dan tidak terjadi sesuatu yang mengganggu rutinitas kehidupan kami. Tapi saya dapat melihat perubahan pada paman saya. Dia minum lebih banyak lagi, dan semakin cenderung menyendiri. Kebanyakan waktunya dia habiskan di dalam kamar, dengan pintu yang dikunci dari dalam, tapi kadang-kadang dia mabuk dan menghambur keluar rumah dan menangis di kebun dengan revolver di tangannya, meneriakkan bahwa dia tidak takut siapapun, padahal dia tidak dikurung, baik oleh orang maupun iblis. Lalu setelah hal itu mereda, dia akan menyerbu dengan hiruk-pikuk ke pintu, mengunci dan memalangnya, seperti orang yang sudah tidak tahan lagi menanggung teror yang mengusik di dasar jiwanya. Di saat-saat seperti itu aku lihat wajahnya, bahkan di hari yang dingin, bercucuran keringat, seolah dia baru keluar dari kolam air.

“Lalu suatu malam dia berjalan-jalan dalam keadaan mabuk, dan dia tidak pernah kembali. Ketika kami mencarinya, kami temukan dia dengan wajah telungkup di kubangan sampah berlumut, yang terletak di sudut kebun. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, dan airnya cuma sedalam 2 kaki, sehingga hakim, dengan mempertimbangkan keeksentrikannya, menetapkan putusan ‘bunuh diri’. Tapi saya, yang mengetahui bagaimana dia terganggu oleh pemikiran mengenai kematian, punya dugaan yang lain. Akan tetapi masalah itu kemudian lewat, dan ayah saya masuk dalam posisi sebagai pemilik tanah yang baru, dan sejumlah 14 ribu pound, yang tersimpan di bank.”

“Tunggu sebentar,” potong Holmes, “pernyataan anda, saya akui, adalah satu dari yang paling menarik yang pernah saya dengar. Ijinkan saya mencatat tanggal saat paman anda menerima surat, dan tanggal kematiannya.”

“Surat itu tiba tanggal 10 Maret 1883. Kematiannya terjadi 7 minggu kemudian, di malam tanggal 2 Mei.”

“Terima kasih. Silakan dilanjutkan.”

“Ketika ayah saya mengambil alih properti Horsham, dia, atas permintaan saya, melakukan pemeriksaan seksama di loteng yang selalu terkunci. Kami temukan kotak kuningan disitu, meskipun isinya telah dihancurkan. Di sisi dalam tutupnya terdapat label kertas, dengan inisial K.K.K. diatasnya, dan’surat-surat, catatan, kuitansi, dan daftar’ tertulis di bawahnya. Ini, kami duga, adalah catatan tentang kertas-kertas yang dihancurkan oleh Kolonel Openshaw. Sisanya, tidak ada yang penting di loteng kecuali sejumlah besar kertas dan buku catatan yang memuat kehidupan paman saya di Amerika. Beberapa diantaranya berasal dari saat perang dan yang menunjukkan bahwa dia telah melakukan tugasnya dengan baik dan memperoleh reputasi sebagai tentara yang berani. Yang lainnya bertanggal selama masa rekonstruksi negara-negara selatan, dan kebanyakan berkaitan erat dengan politik, dan merupakan bukti bahwa dia berjuang keras menentang para politisi ‘tas-karpet’ yang dikirim dari utara.

“Yah, itu terjadi di awal tahun 1884 ketika ayah saya pindah ke Horsham, dan semua berjalan baik-baik saja hingga Januari 1885. Di hari keempat sesudah tahun baru saya dengar ayah saya berteriak kaget saat kami duduk bersama di meja sarapan. Saat itu, dia duduk dengan amplop yang baru saja dibuka di satu tangan dan lima biji jeruk kering di telapak tangannya yang lain. Dia selalu menertawakan apa yang dia sebut cerita ‘banteng-dan-ayam’ mengenai kolonel, tapi dia nampak takut dan bingung sekarang ketika hal yang sama tertuju kepadanya.

” ‘Hei, apa-apaan artinya ini, John?’ dia tergagap.

“Hati saya tergerak untuk memberitahu. ‘Itu K.K.K.,’ kata saya.

“Dia melihat ke dalam amplop. ‘Jadi begitu,’ serunya. ‘Ini dia hurufnya. Tapi apa yang tertulis di atasnya?’

” ‘Letakkan kertas-kertas itu di jam matahari,’ saya membaca, melongok dari balik bahunya.

” ‘Kertas apa? Jam matahari apa?’ tanyanya.

” ‘Jam matahari di kebun. Tidak ada yang lain,’ kata saya; ‘tapi kertas-kertas yang dimaksud pasti yang telah dihancurkan itu.’

” ‘Pooh!’ katanya, bersikukuh pada keberaniannya. ‘Kita berada di tanah beradab disini, dan kita tidak bisa dibodohi dengan hal semacam ini. Dari mana ini dikirim?’

” ‘Dari Dundee,’ jawab saya, melirik ke stempel pos.

” ‘Ini kerjaan orang iseng yang gila-gilaan,’ katanya. ‘Apa yang mesti saya lakukan dengan jam matahari, dan kertas-kertas? Saya tidak akan memperdulikannya.’

” ‘Saya kira sebaiknya bicara pada polisi,’ kata saya.

” ‘Dan ditertawakan karena takut. Tidak bisa.’

” ‘Kalau begitu biar saya saja yang lapor?’

” ‘Tidak, saya larang kamu. Saya tidak mau pusing dengan omong-kosong ini.’

“Percuma berdebat dengannya, karena dia orang yang keras kepala. Lalu saya pergi tapi dengan hati yang penuh dengan kekhawatiran.

“Di hari ketiga setelah datangnya surat ayah saya pergi mengunjungi teman lamanya, Mayor Freebody, yang mengepalai salah satu dari perbentengan di Portsdown Hill. Saya senang dengan kepergiannya, karena saya pikir dia akan jauh dari bahaya jika dia menjauh dari rumah. Tetapi ternyata saya salah besar. Di hari kedua kepergiannya saya menerima telegram dari mayor, meminta dengan sangat agar saya datang segera. Ayah saya terjatuh di suatu lubang kapur yang banyak terdapat di sekitar sana, tergeletak tak bergerak, dengan tengkorak retak. Saya segera menghampirinya, tapi dia meninggal tanpa pernah sadarkan diri. Nampaknya dia kembali dari Fareham di saat senja, dan karena daerah itu tidak begitu dikenalnya, dan lubang kapurnya tidak berpagar, maka hakim tidak ragu menetapkan ‘kematian dari sebab kecelakaan.’ Ketika saya amati dengan seksama setiap fakta yang terkait dengan kematiannya, saya gagal menemukan sesuatu yang mengarah pada kesimpulan pembunuhan. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, tidak ada jejak kaki, tidak ada yang dirampok, tidak ada bukti adanya orang asing yang terlihat di jalan. Dan tak perlu lagi saya katakan pada anda bahwa saya jauh dari tenang, dan bahwa saya sangat yakin ada suatu rencana kotor yang menjeratnya.

“Melalui cara yang menyeramkan inilah saya masuk ke dalam warisan saya. Anda tentu bertanya kenapa saya tidak menjualnya? Jawab saya, karena saya tetap yakin bahwa masalah kami ini terkait dengan insiden dalam kehidupan paman saya, dan bahwa bahaya akan tetap menekan yang terkait dengan paman saya, bukan terkait dengan rumah.

“Saat itu bulan Januari 1885, ayah saya telah meninggal, dan 2 tahun 8 bulan telah berlalu. Selama waktu itu saya hidup dengan bahagia di Horsham, dan saya mulai berharap bahwa kutukan ini telah lenyap dari keluarga, dan telah berakhir dengan berlalunya generasi terakhir. Tapi rupanya saya terlalu cepat merasa nyaman; kemarin pagi kejadian itu terulang lagi seperti yang terjadi pada ayah saya.”

Si orang muda itu mengeluarkan dari mantelnya sebuah amplop yang kusut, dan di meja dia tumpahkan lima biji jeruk yang kering dari dalam amplop.

“Ini adalah amplop,” lanjutnya, “dengan stempel pos London — divisi timur. Didalamnya tertulis pesan yang sama dengan yang diterima ayah saya : ‘K.K.K.’; dan kemudian ‘Letakkan kertas-kertas itu di jam matahari.’ “

“Apa yang anda lakukan?” tanya Holmes.

“Tidak ada.”

“Tidak ada?”

“Yang sebenarnya adalah” — dia membenamkan wajahnya ke kedua tangannya yang putih kurus — “saya merasa tak tertolong. Saya merasa seperti seekor kelinci saat sang ular sedang melilitnya. Saya merasa berada dalam genggaman tangan jahat yang tak terhindarkan, tanpa harapan maupun jalan untuk mencegahnya.”

“Tut! tut!” seru Sherlock Holmes. “Anda harus bergerak, bung, atau anda akan kalah. Hanya energi yang bisa menyelamatkan anda. Ini bukan saatnya untuk berputus asa.”

“Saya telah mendatangi polisi.”

“Ah!”

“Tapi mereka mendengarkan cerita saya dengan senyum-senyum. Saya yakin bahwa inspektur menganggap surat-surat ini adalah gurauan iseng, dan bahwa kematian keluarga saya benar-benar kecelakaan, seperti yang dinyatakan hakim, dan tak terkait dengan peringatan ini.”

Holmes melepaskan kedua tinjunya ke udara. “Kebodohan yang luar biasa!” serunya.

“Tapi mereka mengijinkan seorang polisi tinggal di rumah bersama saya.”

“Apakah dia datang bersama anda malam ini?”

“Tidak, perintahnya adalah untuk tinggal di rumah.”

Lagi Holmes meracau ke udara.

“Mengapa anda datang kepada saya,” serunya, “dan, diatas semuanya, mengapa anda tidak datang segera?”

“Saya tidak tahu. Baru hari ini saya bicara dengan Mayor Prendergast mengenai masalah saya dan disarankan olehnya untuk datang kepada anda.”

“Ini sudah 2 hari sejak anda menerima surat. Kita seharusnya bergerak sebelumnya. Anda tidak punya bukti lain selain yang telah anda paparkan kepada kami — tidak ada rincian lain yang bisa menolong kita?”

“Ada satu hal,” kata John Openshaw. Dia merogoh-rogoh kedalam saku mantelnya, dan, mengeluarkan selembar kertas dengan tulisan tinta berwarna biru, dia letakkan kertas itu di meja. “Saya ingat,” katanya, “bahwa di hari ketika paman saya membakar kertas-kertas saya amati bahwa ada sebagian kecil yang tak terbakar terselip di antara abu kertas. Saya temukan selembar kertas ini di lantai kamarnya, dan saya cenderung berpikir bahwa ini mungkin adalah salah satu kertas yang terbang terpisah dari lainnya, sehingga luput dari pembakaran. Terkait dengan yang dimaksud oleh ancaman biji jeruk, saya tidak melihat bahwa ini akan banyak membantu. Saya sendiri berpikir bahwa kertas ini adalah sebuah halaman dari catatan pribadi. Tulisannya jelas tulisan paman saya.”

Holmes mendekatkan lampu, dan kami berdua membungkuk memperhatikan lembaran itu, yang nampak jelas dari pinggirnya yang tidak rata bahwa kertas itu memang disobek dari sebuah buku. Judulnya tertulis, “Maret, 1869″, dan dibawahnya tertulis sebagai berikut :

  • 4.    Hudson datang. Platform lama yang sama.
  • 7.    Mengirim biji ke McCauley, Paramore, dan John Swain, di St. Augustine.
  • 9.    McCauley bersih.
  • 10. John Swain bersih.
  • 12. Mengunjungi Paramore. Semua beres.

“Terima kasih!” kata Holmes, melipat kembali kertas dan mengembalikan ke tamu kami. “Dan sekarang anda tidak boleh kehilangan waktu sejenakpun. Kita bahkan tidak punya cukup waktu untuk mendiskusikan apa yang anda katakan kepada saya. Anda harus pulang ke rumah segera dan bergerak.”

“Apa yang harus saya lakukan?”

“Hanya ada satu hal yang harus anda lakukan. Dan harus dilakukan segera. Anda harus meletakkan kertas tadi yang anda tunjukkan kepada kami kedalam kotak kuningan yang anda ceritakan. Anda juga harus memasukkan sebuah catatan yang mengatakan bahwa kertas ini adalah satu-satunya yang tersisa. Anda harus mengemukakannya dengan kata-kata yang bisa meyakinkan mereka. Setelah melakukan ini, anda harus segera meletakkan kotak kuningan itu diatas jam matahari, seperti yang diminta. Anda paham?”

“Paham seluruhnya.”

“Jangan berpikir untuk membalas dendam, atau yang semacamnya, saat ini. Saya kira kita bisa mendapatkan pembalasan melalui jalur hukum; tapi kita harus menyiapkan jaringnya, sementara jaring mereka sudah jadi. Pertimbangan utamanya adalah melepaskan tekanan bahaya yang mengancam anda. Yang kedua adalah mengungkap misteri dan menghukum yang bersalah.”

“Terima kasih,” kata si anak muda, bangkit dan mengenakan mantelnya. “Anda telah memberi saya kesegaran dan harapan. Saya akan lakukan persis seperti yang anda sarankan.”

“Jangan buang waktu sedikitpun. Dan, diatas semuanya, jaga diri anda sementara ini, karena saya yakin anda sedang terancam oleh bahaya yang dekat dan nyata. Bagaimana cara anda pulang?”

“Pakai kereta api dari Waterloo.”

“Ini belum jam 9. Jalanan akan sibuk, jadi saya percaya anda cukup aman. Sementara anda belum dapat menjaga diri anda dengan rapat.”

“Saya bawa senjata.”

“Itu bagus. Besok saya akan mulai mengerjakan kasus anda.”

“Kalau begitu, saya akan bertemu anda di Horsham?”

“Tidak, rahasia kasus anda berada di London. Disitu saya akan mencarinya.”

“Kalau begitu saya akan mengunjungi anda dalam sehari, atau 2 hari, dengan kabar mengenai kotak dan kertas itu. Saya akan kerjakan saran anda semuanya.” Dia menjabat tangan kami dan kemudian pergi. Diluar angin masih menjerit dan hujan menerpa jendela. Cerita aneh ini rasanya seperti muncul dari tengah-tengah prahara– menyembur kepada kami seperti seonggok rumput laut di tengah badai — dan sekarang surut lagi menjauh.

Sherlock Holmes duduk diam beberapa lama, dengan kepala tepekur dan matanya menerawang ke nyala perapian. Kemudian dia menyalakan pipanya, dan sambil bersandar ke kursi dia memandangi lingkaran biru asap rokok yang berkejaran menuju atap plafon.

“Saya kira, Watson,” dia berucap akhirnya, “bahwa di semua kasus kita tidak ada yang lebih fantastis daripada ini.”

“Kecuali mungkin, kasus ‘Tanda yang Empat’ “

“Well, yah. Kecuali mungkin, yang itu. Dan bagiku John Openshaw ini berjalan di tengah bahaya yang lebih besar daripada yang dialami Sholto.”

“Tapi sudahkah engkau membentuk konsepsi tertentu mengenai apa persisnya bahaya itu?”

“Tak ada keraguan lagi jika dilihat dari kondisinya,” jawabnya.

“Lalu macam apa mereka itu? Siapa K.K.K. ini, dan mengapa dia memburu keluarga yang tak bahagia ini?”

Sherlock Holmes memejamkan matanya dan meletakkan kedua sikunya diatas lengan kursi, dengan ujung jari-jarinya bersatu. “Penalar yang ideal,” cetusnya, ” saat dia sekali melihat fakta tunggal di seluruh alur peristiwanya, akan mendeduksi darinya tidak hanya seluruh rantai kejadian yang menuju kearah itu tapi juga seluruh hasil yang mengikutinya. Seperti Cuvier yang mampu menggambarkan dengan tepat keseluruhan hewan melalui kontemplasi dari sebuah tulang, begitu pula seorang pengamat yang langsung memahami suatu alur dalam serangkaian insiden seharusnya mampu menetapkan secara akurat semua kejadian yang lain, baik sebelum maupun sesudahnya. Kita belum menggenggam hasil-hasil yang mana penjelasan dapat mencapainya. Masalah bisa dipecahkan dengan mencari semua kemungkinan jawaban melalui bantuan akal sehat. Akan tetapi, untuk membawa seni penalaran ini ke puncak tertinggi, sangat penting bahwa seorang penalar mampu memanfaatkan semua fakta yang datang memasuki pengetahuannya; dan hal ini sendiri, seperti yang akan kamu saksikan sebentar lagi, berakibat pada pemilikan semua pengetahuan, yang bahkan di masa sekarang dimana pendidikan gratis dan tersedia ensiklopedi, masih agak jarang tercapai. Tapi bukannya tidak mungkin seseorang bisa memiliki semua pengetahuan yang dapat digunakannya untuk bekerja, dan inilah yang aku upayakan dengan keras untuk kulakukan dalam kasusku. Jika aku ingat-ingat dulu, kamu dalam satu kesempatan , di hari-hari awal pertemuan kita, kamu mengungkapkan batasanku secara sangat presisi.”

“Ya,” jawabku sambil tertawa. “Itu memang kenangan yang istimewa. Aku ingat, filosofi, astronomi, dan politik nilainya nol. Botani bervariasi, geologi sangat menguasai dalam kaitannya dengan jenis lumpur dan tanah dari setiap wilayah dalam radius 50 mil dari kota, kimia eksentrik, anatomi tidak sistematis, catatan kejahatan dan literatur sensasional unik, pemain biola, petinju, pemain pedang, pengacara, dan meracuni diri dengan kokain dan tembakau. Semua ini, aku kira, adalah poin utama dari analisisku.”

Holmes meringis mendengar poin yang terakhir. “Yah,” katanya, “Aku katakan sekarang, seperti sebelumnya, bahwa seseorang harus menjaga ruang otaknya yang kecil dengan semua perabot yang biasa dia perlukan, dan sisanya bisa dia letakkan di ruang pustakanya, dimana dia bisa mengambilnya jika dia butuh. Jadi, untuk kasus yang kita hadapi malam ini, kita perlu mengerahkan semua sumber daya kita. Tolong ambilkan huruf K dari ensiklopedi Amerika yang ada di rak disampingmu. Terima kasih. Sekarang mari kita lihat situasinya dan kita lihat pula apa yang bisa kita deduksikan darinya. Pertama, kita bisa mulai dengan menganggap bahwa Kolonel Openshaw punya alasan yang sangat kuat untuk meninggalkan Amerika. Orang dengan usia dan pengalamannya tidak akan begitu saja merubah kebiasaannya dan mengganti dengan sukarela iklim nyaman di Florida dengan kehidupan menyendiri di pedalaman Inggris. Kecintaannya dengan kesunyian Inggris menunjukkan bahwa sebenarnya dia takut dengan seseorang atau sesuatu yang menggiringnya keluar dari Amerika. Mengenai apa yang dia takutkan, kita hanya bisa mendeduksi bahwa hal itu berkaitan dengan surat-surat yang diterimanya dan penerusnya. Apa kamu ingat stempel pos dari surat-surat itu?”

“Yang pertama  dari Pondicherry, yang kedua dari Dundee, dan ketiga dari London.”

“Dari London timur. Apa yang bisa kamu deduksi dari hal itu?”

“Semuanya adalah kota pelabuhan. Bahwa penulisnya berada diatas kapal.”

“Bagus sekali. Kita telah mendapat sebuah petunjuk. Tidak diragukan lagi bahwa kemungkinan — sangat mungkin — bahwa penulisnya naik kapal. Dan sekarang mari kita lihat poin yang lain. Di kasus Pondicherry, 7 minggu berlalu antara ancaman dan pelaksanaannya, di Dundee waktunya hanya sekitar 3 atau 4 hari. Ini menunjukkan apa?”

“Jarak yang lebih jauh untuk ditempuh.”

“Tapi suratnya juga menempuh jarak yang lebih jauh.”

“Aku tidak melihat poinnya.”

“Jadinya muncul dugaan paling tidak kapal yang dia atau mereka tumpangi adalah kapal layar. Nampaknya mereka selalu mengirim peringatan istimewa sebelum mereka memulai misi mereka. Kamu lihat betapa cepatnya perbuatan mengikuti peringatan ketika dikirim dari Dundee. Jika mereka datang dari Pondicherry dengan kapal uap mereka akan tiba secepat surat mereka. Tapi, kenyataannya, 7 minggu berlalu. Aku kira 7 minggu ini mewakili perbedaan kecepatan antara kapal-pos yang membawa surat dan kapal layar yang membawa penulisnya.”

“Itu bisa saja.”

“Lebih dari itu. Itu sangat mungkin. Dan sekarang kamu lihat teramat mendesaknya kasus baru ini, dan mengapa aku mendesak Openshaw muda untuk segera bertindak. Insiden selalu jatuh di akhir waktu ketika si pengirim selesai menempuh jarak perjalanan. Tapi yang terakhir datang dari London, dan oleh karenanya kita tidak mendapat jeda waktu sama sekali.”

“Ya Tuhan!” seruku. “Lalu apa maksudnya semua siksaan yang tanpa belas kasihan ini?”

“Kertas-kertas yang dibawa Openshaw pasti sangat penting bagi dia atau mereka yang di kapal layar. Aku kira mereka pasti lebih dari satu. Satu orang tidak bisa menghasilkan dua kematian dengan cara yang bisa menipu pemeriksaan hakim. Pasti lebih dari satu, dan pasti mereka orang cakap dan terlatih. Kertas-kertas yang mereka cari, menjadi pengikat dan pegangan mereka selama ini. Dengan situasi seperti ini kamu lihat K.K.K. bukan merupakan singkatan nama seseorang tapi merupakan lencana suatu kelompok masyarakat.”

“Tapi kelompok masyarakat apa?”

“Tidakkah kamu…” kata Sherlock Holmes, membungkuk ke depan dan memelankan suaranya — “Tidakkah kamu pernah mendengar mengenai Ku Klux Klan?”

“Belum pernah.”

Holmes membalik-balik lembaran dari buku di pangkuannya.

“Ini dia,” kata dia akhirnya.

“Ku Klux Klan. Suatu nama kelompok masyarakat yang diturunkan dengan meniru bunyi senapan yang dikokang. Masyarakat rahasia yang menakutkan ini dibentuk oleh beberapa mantan tentara Konfederasi di negara-negara selatan setelah perang saudara, dan dengan cepat dibentuk cabang-cabang lokal yang tersebar di berbagai tempat, khususnya di Tennessee, Louisiana, kedua Carolina, Georgia, dan Florida. Kekuatannya digunakan untuk tujuan politik, khususnya untuk menteror para pemilih negro dan juga membunuh dan mengusir keluar mereka yang berlawanan pandangan. Aksi kekejamannya biasanya didahului dengan peringatan yang dikirimkan kepada orang yang dituju dalam bentuk yang fantastis tapi mudah dikenali — berupa daun oak, biji melon atau biji jeruk. Setelah menerima peringatan ini si korban kemungkinan mempertahankan pandangannya dan melawan secara terbuka, atau mungkin lari ke luar negri. Jika ia berani menentang, kematian akan datang kepadanya, dan biasanya dengan cara yang aneh dan tak terlihat. Begitu rapinya organisasi masyarakat ini, dan sangat sistematis metodenya, sehingga belum pernah ada tercatat kasus dimana orang yang menentang berhasil bebas dari hukuman, atau kasus dimana kekejamannya terlacak balik mengancam si pelaku. Selama beberapa tahun organisasi ini tumbuh subur bersama dengan upaya pembentukan pemerintahan Amerika Serikat dan berkembang menjadi kelas komunitas tersendiri di negara bagian sebelah selatan. Akhirnya, di tahun 1869, gerakan ini tiba-tiba runtuh, meskipun disana-sini masih muncul secara sporadis aksi komunitas ini.

“Kamu perhatikan,” kata Holmes, sambil meletakkan buku yang tebal itu,” bahwa keruntuhan mendadak dari masyarakat ini bertepatan dengan menghilangnya Openshaw dari Amerika dengan kertas-kertas itu. Disitu terjadi hubungan sebab dan akibat. Tidak aneh jika dia dan keluarganya bersikap kepala batu terhadap pelacakan mereka. Kamu bisa mengerti bahwa daftar dan catatan itu kemungkinan melibatkan beberapa orang di selatan, dan mungkin banyak yang tidak bisa tidur nyenyak hingga kertas-kertas itu dikembalikan.”

“Jadi halaman yang kita lihat itu…”

“Itu adalah seperti yang kita duga. Bunyinya, seingatku, ‘mengirim biji ke A, B, dan C — artinya, mengirim peringatan masyarakat itu kepada mereka. Kemudian tertulis hasilnya bahwa A dan B bersih, atau meninggalkan negri, dan akhirnya C dikunjungi, dengan hasil yang tidak sesuai harapan mereka. Yah, menurutku, dokter, bahwa kita telah memperoleh sedikit kejelasan dari urusan gelap ini, dan aku yakin bahwa kesempatan satu-satunya bagi Openshaw muda saat ini adalah melakukan apa yang telah kukatakan kepadanya. Tak ada lagi yang bisa dikatakan atau dilakukan malam ini, jadi tolong ambilkan biolaku dan mari kita lupakan sejenak cuaca yang menyedihkan dan urusan teman kita ini.”

Pagi harinya cuaca cukup cerah, dan matahari menerangi selubung muram yang menggantung di atas kota. Sherlock Holmes sedang sarapan ketika aku muncul.

“Maaf aku tidak menunggumu,” katanya; “Nampaknya aku bakal sibuk hari ini mengerjakan kasus Openshaw muda.”

“Apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku.

“Sangat tergantung dengan hasil awal penyelidikanku. Sesudah itu mungkin aku akan mengunjungi Horsham.”

“Kamu tidak pergi kesana lebih dulu?”

“Tidak, aku akan mulai di kota. Tekan bel dan pembantu akan membawakanmu kopi.”

Sementara menunggu, aku mengambil koran pagi yang belum dibuka dari meja dan mulai membaca. Mataku terpaku pada judul yang membuat hatiku terasa membeku.

“Holmes,” seruku, “kamu terlambat.”

“Ah!” katanya, meletakkan cangkirnya. “Itulah yang aku khawatirkan. Bagaimana terjadinya?” Dia bicara dengan kalem, tapi aku bisa melihat bahwa dia sangat tergerak.

“Mataku menangkap nama Openshaw, dan judulnya ‘Tragedi dekat jembatan Waterloo’. Berikut beritanya :

“Antara jam 9 dan 10 tadi malam petugas polisi Coole, dari divisi H, sedang bertugas di dekat jembatan Waterloo, mendengar teriakan minta tolong dan suara kecipak air. Tapi karena malam itu keadaannya sangat gelap dan berbadai, meskipun dibantu beberapa pejalan kaki, sangat tidak mungkin melakukan penyelamatan. Kemudian setelah alarm dibunyikan, dan, dengan bantuan polisi-air, tubuhnya berhasil ditemukan. Diketahui orang itu adalah seorang pria muda yang namanya, didapat dari amplop yang ditemukan di sakunya, bernama John Openshaw, yang tinggal dekat Horsham.

Diduga dia sedang terburu-buru mengejar kereta terakhir dari stasiun Waterloo, dan karena tergopoh-gopoh dan keadaan yang sangat gelap dia salah jalur dan berjalan di sisi salah satu tempat bersandar perahu-uap di tepi sungai. Tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya, dan tidak diragukan lagi dia menjadi korban kecelakaan, yang mengundang perhatian yang berwajib terhadap kondisi tempat sandar di tepi sungai.”

Kami duduk diam selama beberapa menit, Holmes nampak tertekan dan terguncang lebih dari yang pernah aku lihat.

“Ini melukai diriku, Watson,” kata dia akhirnya. “Ini memang pikiran yang picik, tapi tetap hatiku terluka. Ini menjadi urusan pribadi bagiku sekarang, dan, jika Tuhan memberiku kesehatan, aku akan memberi pukulan pada kelompok ini. Bahwa dia datang padaku mengharapkan pertolongan, dan aku malah mengirim dia menuju kematiannya…!” Dia bangkit dari duduk dan melangkah bolak-balik dengan cepat, dengan wajah yang bergejolak sambil kedua tangannya mengepal dan membuka bergantian.

“Merek ini iblis yang cerdik,” seru dia akhirnya. “Bagaimana mereka bisa memancingnya turun kesitu? Tanggul itu bukan arah menuju stasiun. Jembatannya jelas cukup ramai, meskipun malam hari, untuk tujuan mereka. Yah, Watson, kita akan lihat siapa yang menang dalam pacuan ini. Aku keluar sekarang!”

“Ke polisi?”

“Tidak; aku sendiri yang akan menjadi polisi. Saat jaringku telah terbentuk mereka boleh ambil lalatnya, tapi tidak sebelumnya.”

Sepanjang hari aku berkutat dengan kerja profesionalku, dan sudah larut malam ketika aku kembali ke Baker Street. Sherlock Holmes belum pulang. Hampir jam 10 ketika dia muncul, terlihat pucat dan lelah. Dia berjalan ke lemari, mengambil setangkup roti dan melahapnya dengan rakus, kemudian mendorongnya dengan beberapa teguk air.

“Kamu lapar?” celetukku.

“Lapar berat. Aku benar-benar lupa. Aku belum makan apapun sejak sarapan.”

“Sama sekali?”

“Tidak sesuappun. Aku tidak sempat berpikir untuk makan.”

“Dan bagaimana hasil penyelidikanmu?”

“Yah.”

“Kamu dapat petunjuk?”

“Aku mendapatkan mereka dalam genggamanku. Openshaw muda tidak akan menunggu lama untuk pembalasan. Yah, Watson, mari kita balikkan permainan iblis mereka. Itu suatu pemikiran yang bagus!”

“Apa maksudmu?”

Dia mengambil buah jeruk dari lemari, memotongnya dan memeras keluar bijinya di meja. Kemudian dia ambil 5 biji dan memasukkannya kedalam amplop. Disebelah dalam tutup amplop dia menulis “S.H. untuk J.O.” Kemudian dia rekat tutupnya dan dia alamatkan ke “Kapten James Calhoun, Kapal Lonestar, Savannah, Georgia.”

“Surat ini akan menunggunya saat dia memasuki pelabuhan,” katanya. “Ini akan membuatnya tidak bisa tidur. Dia akan melihat surat ini sebagai pendahulu dari nasibnya seperti yang dirasakan Openshaw.”

“Dan siapa Kapten Calhoun ini?”

“Pemimpin kelompok. Aku juga akan mengirimi yang lainnya, tapi dia duluan.”

“Lalu, bagaimana kamu melacaknya?”

Dia mengambil selembar kertas yang lebar dari sakunya, seluruhnya berisi tanggal dan nama.

“Aku menghabiskan waktu seharian mengamati daftar milik Lloyd mencari setiap kapal yang sandar di Pondicherry di bulan Januari dan Februari 1883. Ada 36 kapal dengan tonase yang memadai dilaporkan sandar di bulan itu. Dari 36 kapal ini, salah satunya, bernama Lone Star, langsung menarik perhatianku, karena, selain dilaporkan bahwa saat ini sedang angkat sauh meninggalkan London, nama kapal itu berkaitan dengan salah satu negara bagian di Amerika Serikat.”

“Texas, aku kira.”

“Aku tidak tahu yang mana, tapi aku tahu bahwa kapal ini pasti kapal Amerika.”

“Lalu?”

“Aku mencari di daftar pelabuhan Dundee, dan saat kutemukan kapal Lone Star sandar disitu di bulan Januari 1885, kecurigaanku semakin menguat. Lalu aku meminta daftar kapal yang sandar saat ini di pelabuhan London.”

“Ya?”

“Lone Star tiba seminggu yang lalu. Aku periksa di Dok Albert dan ternyata dia telah angkat sauh saat pasang naik pagi ini, dengan tujuan pulang ke Savannah. Aku mengirim kawat ke Gravesend dan ternyata bahwa dia baru saja lewat, dan karena angin yang berhembus adalah angin timur maka aku yakin bahwa saat ini dia telah melewati Goodwins dan tidak jauh dari pulau Wight.”

“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

“Oh, aku akan memberi sedikit gangguan padanya. Dia dan 2 orang temannya, setahuku, adalah orang-orang asli kelahiran Amerika didalam kapal itu. Yang lainnya orang Finlandia dan Jerman. Aku tahu juga bahwa mereka bertiga keluar dari kapal tadi malam. Aku dengar hal ini dari buruh pelabuhan yang mengangkut muatan mereka. Saat kapal layar itu mencapai Savannah kapal pos akan sudah menyampaikan surat ini, dan sebuah kabel berita yang memberitahu polisi Savannah bahwa mereka bertiga sangat dicari disini atas tuduhan pembunuhan.”

Akan tetapi selalu ada cacat dalam perencanaan terbaik manusia, dan para pembunuh John Openshaw nampaknya tidak pernah menerima biji jeruk itu seperti yang mereka lakukan terhadap yang lain, secerdik dan sepasti yang mereka lakukan, sebagai jejak mereka. Sangat panjang dan keras badai di tahun ini. Kami menunggu lama berita Lone Star dari Savannah, tapi tak ada yang sampai kepada kami. Kami akhirnya mendengar bahwa di suatu tempat jauh di Atlantik sebuah kapal dengan buritan yang pecah nampak berayun di tengah gelombang, dengan huruf “L.S.” terukir di badannya, dan itulah semua yang kami tahu mengenai nasib Lone Star.

Tamat

Catatan: 7

Judul asli : The Five Orange Pips.

Rilis : 1891

Karya : Sir Arthur Conan Doyle

Script asli : 221bakerstreet.org

<p

Posted in: sherlock holmes