Holmes sedang duduk tanpa berkata-kata dengan penggungnya yang panjang membungkuk ke tabung kimia yang berisi campuran yang dia buat dan mengeluarkan bau yang aneh. Kepalanya terbenam di dadanya, dan dari sudut pandangku dia terlihat seperti seekor burung kurus yang aneh, dengan bulu-bulu berwarna kelabu dan kepalanya berwarna hitam.
“Jadi, Watson,” katanya tiba-tiba, “kamu tidak jadi menanamkan investasi pada saham-saham Afrika Selatan itu?”
Aku sampai melontarkan seruan saking terkejutku. Meskipun terbiasa dengan sifat Holmes yang ingin tahu, campur tangan tiba-tiba ini pada pemikiranku yang paling dalam tetap saja tak terjelaskan.
“Dari mana kamu tahu hal itu?” tanyaku.
Dia berputar diatas bangkunya menghadapku, dengan tabung reaksi beruap di tangannya, dan secercah kegembiraan dari kedalaman matanya.
“Sekarang, Watson, akuilah bahwa kamu terkejut,” katanya.
“Memang.”
“Aku seharusnya memintamu menuliskan keterkejutanmu di kertas.”
“Kenapa?”
“Karena dalam 5 menit kamu akan bilang bahwa ini semua ternyata sangat sederhana.”
“Aku yakin bahwa aku tidak akan mengatakan yang semacam itu.”
“Kamu tahu, Watson yang baik” — dia meletakkan tabung reaksinya di rak tabung, dan mulai mengkuliahi dengan gaya seorang professor di depan kelas — “tidaklah sulit untuk menyusun sederet kesimpulan, masing-masing bergantung pada peristiwa yang mendahuluinya, dan tiap-tiap peristiwa itu juga sederhana. Jika, setelah mengalami hal itu, seseorang menarik kesimpulan akhir dan menyampaikan kepada pendengarnya dengan satu titik acuan dan kesimpulan, orang itu bisa membangkitkan efek mengejutkan, meskipun mungkin cuma kejutan sekilas saja. Sekarang, sungguh tidak sulit, dengan memperhatikan lekukan diantara telunjuk dan jempol tangan kirimu, untuk merasa yakin bahwa kamu tidak berminat menginvestasikan modal kecilmu dalam bentuk emas.”
“Aku tidak melihat hubungannya.”
“Tentu saja tidak; tapi aku bisa dengan cepat menunjukkan padamu keterkaitannya. Inilah mata rantai yang hilang itu :
- Di tangan kirimu ada bekas kapur diantara jari telunjuk dan jempol saat kamu kembali dari klub tadi malam.
- Kamu menempatkan kapur disitu saat bermain bilyard, untuk menetapkan stik bilyard.
- Kamu tidak pernah bermain bilyard kecuali dengan Thurston.
- Kamu mengatakan padaku, 4 minggu yang lalu, bahwa Thurston memiliki option pada beberapa saham Afrika Selatan yang akan kedaluarsa dalam sebulan, dan dia ingin mengajakmu berinvestasi bersama dia.
- Buku cek-mu terkunci di lemariku, dan kamu tidak meminta kuncinya.
- Kamu tidak berminat untuk menginvestasikan uangmu di saham itu.”
“Betapa sederhananya!” seruku.
“Tepat sekali!” katanya, sedikit terluka. “Setiap masalah menjadi sangat kekanak-kanakan begitu kamu memahami penjelasannya. Nah, kalau yang ini adalah satu masalah yang tak terjelaskan. Lihat, bagaimana menurutmu, Watson?” Dia meletakkan selembar kertas diatas meja, dan berbalik sekali lagi ke analisa kimianya.
Aku merasa geli dan lucu melihat gambar konyol orang menari di kertas itu.
“Wah, Holmes, ini gambarnya anak kecil,” jawabku sambil tersenyum.
“Oh, begitu menurutmu!”
“Memangnya gambar apaan?”
“Itu yang ingin diketahui oleh Mr. Hilton Cubitt dari Riding Thorpe Manor, Norfolk. Teka-teki ini dikirim melalui pos, dan ia segera menyusul datang dengan naik kereta paling pagi. Nah, itu suara bel, Watson, kemungkinan besar dia yang datang.”
Terdengar langkah yang berat menaiki tangga, beberapa saat kemudian masuklah seorang yang tinggi, berwajah segar kemerahan dan bercukur klimis. Penampilannya menunjukkan hidup kesehariannya yang jauh dari jalanan kota yang berkabut, dan seolah ada hawa pantai yang segar ikut masuk bersamanya. Setelah berjabat tangan dengan kami, dia baru saja akan duduk ketika ia melihat kertas dengan gambar aneh yang tadi aku amati dan aku letakkan di atas meja.
“Nah, Mr. Holmes, bagaimana teka-teki ini menurut pendapat anda?” tanya Mr. Cubitt. “Orang bilang anda menyukai hal-hal yang misterius, dan menurut saya tak ada yang lebih misterius dari pada yang satu ini. Sengaja saya lampirkan kertas ini bersama surat saya agar anda ada waktu untuk mempelajarinya sebelum saya tiba.”
“Ini memang teka-teki yang aneh,” kata Holmes. “Gambar orang menari di sepanjang kertas itu nampak seperti lelucon konyol kanak-kanak. Mengapa anda begitu tertarik dengan gambar itu?”
“Bukan saya, Mr. Holmes. Tapi istri saya. Dia ketakutan setengah mati. Dia tidak bilang apa-apa, tapi saya bisa melihat ketakutan dimatanya. Itulah sebabnya saya ingin menyelidikinya sampai tuntas.”
Holmes mengambil kertas itu dan mengarahkannya ke cahaya matahari. Sepertinya itu adalah secarik kertas yang disobek dari buku catatan. Gambarnya ditulis memakai pensil, dan berbentuk seperti ini:
Holmes mengamatinya beberapa saat, dan kemudian, melipat dan menyelipkannya di buku saku.
“Ini memang sangat menarik dan merupakan kasus yang langka,” katanya. “Anda memberikan penjelasan dalam surat anda, Mr. Hilton Cubitt, tapi saya akan sangat berterima kasih jika anda bersedia menceritakannya lagi agar teman saya Dr. Watson bisa ikut mendengarnya.”
“Saya tidak pandai bercerita,” kata tamu kita sedikit gugup. “Anda bisa tanya apa saja yang kurang jelas. Saya akan mulai cerita dari sejak pernikahan saya setahun lalu, tapi sebelumnya saya ingin menjelaskan, bahwa meskipun kami bukan keluarga kaya, keluarga kami telah tinggal di Riding Thorpe selama kira-kira lima abad, dan sangat dikenal di daerah Norfolk. Tahun lalu saya datang ke London menghadiri acara keagamaan, dan saya menginap di rumah indekos di Russel Square, karena Parker, pendeta jemaat kami, tinggal disana. Disitu saya bertemu dengan seorang wanita muda Amerika, Patrick namanya, Elsie Patrick. Kami jadi berteman, dan belum sebulan kami sudah saling jatuh cinta. Kami menikah diam-diam di kantor catatan sipil, dan kami kembali ke Norfolk sebagai pasangan suami istri. Anda tentu berpikir bahwa ini gila, Mr. Holmes, bahwa seorang pria dari keluarga baik-baik menikahi seorang wanita dengan cara seperti ini, tanpa mengetahui masa lalunya ataupun keluarganya, tapi jika anda melihat dan mengenalnya, anda pasti maklum.
“Dia sangat tegas mengenai hal ini, itulah Elsie. Saya tidak bisa bilang bahwa dia tidak memberi kesempatan pada saya untuk mundur jika saya mau. ‘Masa lalu saya sangat tidak mengenakkan,’ katanya, ‘Saya ingin melupakan semuanya. Lebih baik saya tidak menyinggung masa lalu, karena sangat menyakitkan bagi saya. Jika anda mengambil saya, Hilton, anda akan mendapatkan seorang wanita yang bersih dari segala sesuatu yang bisa membuat anda merasa malu; tetapi anda harus pegang janji, dan membiarkan saya bersikap diam atas masa lalu yang telah lewat hingga saat saya menjadi milikmu. Jika syarat ini terlalu berat, maka sebaiknya anda kembali ke Norfolk, dan tinggalkan saya dengan kehidupan saya sendiri seperti saat anda bertemu saya.’ Itu terjadi sehari sebelum pernikahan kami saat dia mengatakan hal itu. Saya katakan kepadanya bahwa saya bersedia mengambil dia dengan syarat seperti itu dan saya adalah orang yang memegang janji. Saya selalu menjaga untuk tidak mencampuri urusan pribadinya.
“Yah, higga kini kami telah menikah selama setahun dan kami merasa berbahagia pula. Tapi sekitar sebulan yang lalu, di akhir Juni, untuk pertama kalinya saya merasa curiga ada sesuatu yang tidak beres. Suatu hari istri saya menerima surat dari Amerika. Saya tahu dari prangkonya. Dia membaca surat itu, lalu berubah pucat, dan melemparkan surat itu ke perapian. Dia tidak pernah membicarakan hal itu lagi dan saya juga tidak pernah menanyakannya, karena janji adalah janji, tapi sejak itu dia terlihat sangat terusik. Selalu nampak bayangan ketakutan di wajahnya – seolah dia sedang menunggu dan berharap. Dia sebaiknya mempercayai saya. Dia akan mengetahui bahwa saya adalah temannya berbagi. Tapi saya tidak bisa bilang apa-apa hingga dia bicara. Perlu anda ketahui, Mr. Holmes, dia seorang wanita yang jujur, dan apapun masalah yang terjadi di masa lalunya dia tetap tidak bersalah. Saya cuma orang biasa dan sederhana di Norfolk, tapi tak ada seorangpun di Inggris yang menjunjung kehormatan keluarga setinggi saya. Dia tidak akan pernah menodai kehormatan ini – itu saya yakin sekali.
“Nah, sekarang saya sampai di bagian yang paling aneh dari cerita saya. Sekitar seminggu yang lalu – di hari Selasa seminggu yang lalu – saya menemukan di daun jendela sederet gambar orang menari seperti di kertas itu. Ditulis memakai kapur. Saya pikir kacung kebun yang menggambarnya, tetapi bocah itu bersumpah bahwa ia tidak tahu apa-apa. Lagi pula gambar itu dibuat di malam hari. Lalu saya hapus gambar itu, dan saya cuma menyinggung sambil lalu kepada istri saya. Betapa kagetnya saya ketika ia menanggapinya dengan serius, dan memohon jika muncul gambar seperti itu lagi agar membolehkan dia melihatnya. Tidak ada lagi muncul gambar itu selama seminggu, dan kemudian kemarin pagi saya temukan kertas ini tergeletak di atas ‘jam matahari’ di kebun. Saya tunjukkan kertas itu kepada Elsie, dan dia jatuh pingsan. Sejak itu dia nampak seperti orang yang tengah bermimpi, setengah linglung, dan ada ketakutan yang tersembunyi di matanya. Saat itulah kemudian saya menulis surat kepada anda, Mr. Holmes. Ini bukanlah suatu masalah yang dapat dibawa ke polisi, karena mereka pasti akan menertawakan saya. Jadi, beri saya saran apa yang mesti saya lakukan. Saya bukan orang kaya, tapi jika benar ada bahaya yang mengancam istri saya, saya akan gunakan uang saya hingga keping terakhir untuk melindunginya.”
Orang yang sungguh baik, yang muncul dari pedalaman Inggris – sederhana, terus terang, dan ramah, dengan mata birunya yang lebar dan bersungguh-sungguh. Cintanya dan juga keyakinannya pada istrinya sungguh menggelora. Holmes mendengarkan cerita itu dengan penuh perhatian, dan kini duduk diam berpikir.
Akhirnya ia berkata:”Tidakkah menurut anda, Mr. Cubitt, bahwa yang terbaik adalah menanyakannya langsung kepada istri anda, dan memintanya untuk membagi rahasianya kepada anda?”
Hilton Cubitt menggelengkan kepalanya.
“Janji adalah janji, Mr. Holmes. Jika Elsie bermaksud mengatakannya, maka dia akan melakukannya. Jika tidak, saya tidak akan memaksa dan merusak kepercayaannya. Tapi saya bisa berupaya untuk mengetahuinya dengan cara saya sendiri – dan itulah yang akan saya lakukan.”
“Kalau begitu saya akan membantu anda sepenuh hati. Apakah anda mendengar adanya orang asing yang terlihat muncul di lingkungan tempat tinggal anda?”
“Tidak”
“Bayangan saya, anda tinggal di daerah yang sepi, dan setiap muncul wajah baru tentunya akan mengundang komentar?”
“Di lingkungan tetangga dekat saya, ya. Tapi di daerah kami ada beberapa tempat yang tidak terlalu jauh dari pantai. Dan para petani pemiliknya membuka penginapan.”
“Deretan gambar ini jelas memiliki arti. Nampaknya tersebar secara acak, mustahil untuk mengartikannya. Tapi, jika sebarannya sistematis, saya yakin bisa memecahkannya. Sayangnya contoh gambar ini terlalu pendek sehingga tak ada yang bisa saya lakukan, dan faktanya begitu jelas bahwa kita tidak bisa menggali informasi lebih lanjut. Jadi saya sarankan anda kembali ke Norfolk, anda lakukan pengamatan dengan cermat, dan buat salinan tiap gambar orang menari yang muncul. Sungguh sayang sekali kita tidak memiliki salinan gambar yang ditulis memakai kapur di daun jendela. Selidiki juga secara diam-diam adanya orang asing yang muncul di lingkungan tetangga anda. Jika anda sudah mengumpulkan bukti baru, datanglah lagi kemari. Itu saran terbaik yang bisa saya berikan kepada anda, Mr. Hilton Cubitt. Jika ada perkembangan mendesak, saya akan selalu siap untuk berkunjung ke rumah anda di Norfolk.”
Wawancara tersebut membuat Sherlock Holmes berpikir keras, dan hari-hari berikutnya aku melihat beberapa kali ia membuka gambar itu dari lipatan buku sakunya dan mengamatinya dengan serius dan lama. Dia tidak bicara sama sekali mengenai teka-teki itu, hingga suatu siang di hari keempat atau lebih. Dia memanggilku ketika aku akan keluar.
“Kamu lebih baik tetap disini, Watson.”
“Kenapa?”
“Karena aku mendapat telegram dari Hilton Cubitt pagi ini. Kamu masih ingat Hilton Cubitt, si orang menari? Dia sudah sampai di Liverpool Street jam 1.20 tadi. Dia bisa muncul disini setiap saat. Menurut telegramnya dia membawa beberapa perkembangan penting.”
Kami tidak menunggu lama, karena rupa-rupanya teman Norfolk kita langsung ngebut dari stasiun kereta kemari. Dia nampak tertekan dan khawatir, dengan garis kelelahan terlihat jelas di matanya.
“Urusan ini membuat saya gugup, Mr. Holmes,” katanya sambil duduk terhenyak, nampak kelelahan. “Sudah cukup parah rasanya jika anda berada di sekitar orang yang tak terlihat dan tak diketahui keberadaannya, yang menyimpan suatu niatan tertentu kepada anda, tapi kemudian, ditambah lagi dengan, anda tahu bahwa urusan ini membunuh istri anda pelan-pelan, maka hal ini sungguh tak tertahankan. Dia sungguh tertekan, sangat tertekan.”
“Apakah dia mengatakan sesuatu?”
“Tidak, Mr. Holmes, belum. Belum nampak dia ingin bicara ataupun berusaha ke arah itu. Saya sudah mencoba memancingnya, tapi hal itu justru membuatnya tambah gugup dan ketakutan. Dia malah bicara mengenai keluarga saya, reputasi keluarga saya, dan kebanggaan kami atas kehormatan keluarga yang tak tercela. Saya terus berusaha mengarahkan pembicaraan ke urusan ini, tapi entah bagaimana selalu gagal.”
“Tapi anda menemukan sesuatu yang baru?”
“Betul sekali, Mr. Holmes. Saya punya beberapa gambar baru untuk anda teliti, dan yang lebih penting lagi, saya telah melihat orangnya.”
“Apa, orang yang menggambarnya?”
“Ya, saya melihatnya ketika sedang menggambar. Tapi saya akan menceritakan semuanya secara urut. Ketika saya kembali dari sini, hal pertama yang saya lihat esok paginya adalah gambar baru orang menari. Ditulis memakai kapur di pintu gudang, yang berada disamping halaman berhadapan dengan jendela depan. Saya telah membuat salinannya, nah ini dia.” Dia mengeluarkan sebuah kertas dan meletakkannya diatas meja. Gambarnya seperti ini:
“Bagus!” kata Holmes. “Bagus sekali! Silakan dilanjut.”
“Sesudah saya menyalinnya, kemudian saya hapus gambar itu, tapi, dua hari kemudian, gambar yang baru muncul lagi. Ini salinannya.”
Holmes menggosok kedua tangannya sambil tersenyum kegirangan. “Data kita mulai terkumpul,” katanya.
“Tiga hari kemudian sebuah pesan tertulis diatas kertas, dan ditindih kerikil diatas jam matahari. Gambarnya, seperti anda lihat, persis sama dengan yang terakhir. Setelah itu saya putuskan untuk menunggu, jadi saya siapkan revolver saya dan duduk di ruang belajar, mengawasi kebun dan taman. Sekitar jam 2 pagi ketika saya duduk menghadap jendela, terlindung oleh gelap dari cahaya bulan diluar, saat itu saya mendengar langkah kaki di belakang saya, dan ternyata itu istri saya, memakai baju tidur. Dia memohon dengan sangat agar saya tidur. Saya katakan terus terang kepadanya bahwa saya bermaksud melihat siapa yang melakukan permainan konyol ini. Dia menjawab bahwa itu cuma kerjaan orang iseng, dan saya tidak perlu ambil peduli.
“‘Jika hal ini benar-benar mengusikmu, Hilton, kita bisa pergi tamasya saja, berdua, jadi bisa terhindar dari gangguan ini.’
“‘Apa, terbirit-birit pergi dari rumah kita sendiri gara-gara orang iseng?’ kata saya. ‘Wah, kita akan ditertawakan orang sekampung.’
“‘Yah, pergilah tidur,’ katanya,’dan kita bisa membicarakannya besok pagi.’
“Tiba-tiba, ketika dia bicara, saya melihat wajahnya yang putih bertambah pucat dibawah cahaya bulan, dan tangannya mencengkeram keras pundak saya. Sesuatu bergerak dibawah bayangan bangunan gedung. Saya melihat suatu bayangan gelap merangkak melewati pojok gudang dan berjongkok di depan pintu. Sambil meraih pistol, saya akan menyerbu keluar, ketika istri saya melingkarkan tangannya ke badan saya dan menggelayuti saya. Saya mencoba melepaskan diri, tapi dia malah tambah melekat dengan kuat. Akhirnya saya dapat lepas, tapi ketika saya membuka pintu dan mencapai gudang, bayangan itu sudah pergi. Dia meninggalkan jejak gambar orang menari di pintu, tapi gambarnya masih tetap sama dengan yang dua kali muncul terakhir, dan yang telah saya buat salinannya. Tak ada tanda-tanda keberadaan orang itu, meskipun sudah saya cari ke semua pelosok. Dan yang mengherankan adalah bahwa ia masih berada di sekitar situ sepanjang waktu, karena ketika saya periksa di pintu gudang esok harinya, ia telah menggoreskan gambar lagi di bawah yang saya lihat.”
“Apakah anda punya salinannya?”
“Ada, sangat pendek, tapi tetap saya buat salinannya, nah ini dia.”
Sekali lagi ia mengeluarkan kertas. Gambarnya sebagai berikut:
“Coba katakan,” kata Holmes – dan aku bisa melihat dimatanya bahwa dia sangat tertarik – “apakah yang baru ini merupakan tambahan atau sambungan dari yang pertama atau muncul terpisah sama sekali?”
“Yang baru itu ditulis di daun pintu satunya.”
“Bagus! Ini adalah data terpenting untuk tujuan kita. Ini memberi saya harapan. Sekarang, Mr. Hilton Cubitt, silakan lanjutkan cerita anda.”
“Tidak ada lagi yang bisa saya sampaikan, Mr. Holmes, kecuali bahwa saya merasa marah kepada istri saya malam itu karena telah menghalangi saya menangkap si penyusup. Dia bilang bahwa dia khawatir saya akan terluka. Untuk sesaat terlintas dalam pikiran saya bahwa mungkin sebenarnya yang dia takutkan adalah bahwa si penyusup itu yang akan terluka, karena saya yakin dia tahu siapa orang itu, dan apa yang disampaikan orang itu melalui pesan aneh ini. Tapi ada suatu nada dalam suara istri saya, Mr. Holmes, dan sesuatu terlihat dimatanya yang menghapus keraguan saya, dan saya menjadi yakin bahwa memang keselamatan sayalah yang dia khawatirkan. Begitulah keseluruhan ceritanya, dan sekarang saya memerlukan saran anda apa yang harus saya lakukan. Saya punya pikiran untuk menempatkan setengah lusin pembantu pria saya di semak belukar, dan jika si penyusup ini muncul lagi akan diberi sedikit pelajaran agar dia meninggalkan kami untuk selamanya.”
“Saya khawatir cara itu malah bisa memperparah keadaan,” kata Holmes. “Berapa lama anda bisa tinggal di London?”
“Saya harus kembali hari ini juga. Saya tidak akan meninggalkan istri saya sendirian sepanjang malam. Dia sangat ketakutan, dan memohon saya untuk segera kembali.”
“Tentu saja anda harus segera kembali. Tapi jika anda bisa tinggal, saya mungkin akan bisa kembali bersama anda dalam satu atau dua hari. Kalau begitu tinggalkan kertas-kertas itu untuk saya teliti, dan kemungkinan besar saya akan membalas berkunjung ke rumah anda dan membawa penjelasan atas kasus anda.”
Sherlock Holmes tetap mempertahankan sikap profesionalnya yang kalem sampai tamu kita pergi, meskipun terlihat jelas dimataku, yang sangat mengenalnya dengan baik, bahwa ia begitu tertarik dengan kasus ini. Begitu punggung Hilton Cubitt yang lebar menghilang dibalik pintu temanku ini segera bergegas ke meja, meletakkan semua kertas berisi gambar orang menari dihadapannya, dan tenggelam dalam kalkulasi yang rumit dan teliti. Selama dua jam aku lihat dia mencoret-coret lembar demi lembar kertas dengan gambar dan huruf, begitu terserap oleh pekerjaannya hingga dia melupakan keberadaanku. Kadang-kadang ia mendapat kemajuan, bersiul dan bernyanyi sambil terus bekerja; kadang dia kebingungan, dan duduk diam cukup lama dengan alis bertaut dan pandangan kosong. Akhirnya dia terlompat dari kursi dengan seruan puas, dan kemudian berjalan bolak-balik didalam ruangan sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya. Kemudian ia menulis telegram yang panjang. “Jika jawaban telegram ini seperti perkiraanku, maka kamu akan mendapatkan kasus yang sangat menarik untuk kamu tambahkan dalam koleksimu, Watson,” katanya. “Aku harap kita bisa pergi ke Norfolk besok, dan memberi teman kita berita yang akurat atas rahasia yang mengganggunya.”
Aku sungguh diliputi perasaan ingin tahu, tapi aku juga sadar bahwa Holmes lebih suka memberi penjelasan pada saatnya sendiri dan dengan caranya sendiri pula, jadi aku menunggu sampai dia mengajak bicara tentang masalah ini.
Tapi ternyata jawaban telegram cukup lambat, dan dua hari berlalu. Selama itu Holmes selalu pasang telinga setiap ada bel berbunyi. Disore hari kedua datang surat dari Hilton Cubitt. Menurutnya keadaan disana tenang-tenang saja, kecuali tadi pagi muncul deretan gambar yang cukup panjang dan diletakkan di kaki jam matahari. Dia melampirkan salinannya, sebagai berikut:
Holmes duduk memperhatikan dengan serius gambar itu untuk beberapa menit, dan kemudian tiba-tiba terlonjak berdiri dengan seruan kaget dan cemas. Wajahnya menjadi cekung oleh kegelisahan.
“Kita telah membiarkan masalah ini berkembang cukup jauh,” katanya. “Adakah kereta ke North Walsham malam ini?”
Aku membuka jadwal keberangkatan. Kereta terakhir baru saja berangkat.
“Kalau begitu kita harus sarapan pagi-pagi dan berangkat dengan kereta paling pagi,” kata Holmes. “Keberadaan kita disana sangat diperlukan. Ah! Ini dia balasan telegram kita. Terima kasih, Mrs. Hudson. Tepat seperti yang saya perkirakan. Telegram ini lebih menegaskan lagi bahwa kita tidak boleh kehilangan waktu sedikitpun untuk memberitahu Hilton Cubitt keadaan sebenarnya, bahwa teman Norfolk kita yang sederhana ini tengah terlibat urusan yang berbahaya.”
Kami baru saja tiba di North Walsham, dan menanyakan alamat yang kami tuju, ketika kepala stasiun menyela kami. “Saya menduga bahwa anda berdua adalah detektif dari London?” katanya.
Suatu airmuka jengkel melintas di wajah Holmes.
“Apa yang membuat anda berpikir begitu?”
“Karena Inspektur Martin dari Norwich baru saja lewat. Tapi mungkin anda dokter bedah. Si istri tidak mati – atau belum, menurut berita terakhir. Anda mungkin tepat waktu untuk menyelamatkannya.”
Kening Holmes berkerut cemas.
“Kami baru akan pergi ke Riding Thorpe Manor,” katanya, “tapi kami sama sekali tidak tahu apa yang terjadi disana.”
“Kejadiannya mengerikan,” kata kepala stasiun. “Mereka berdua tertembak, baik Mr. Hilton Cubitt maupun istrinya. Si istri menembak sang suami dan kemudian menembak dirinya – begitu kata para pelayan. Si suami mati dan si istri sekarat. Duh, sayang sekali, satu dari keluarga paling tua di wilayah Norfolk, dan yang paling disegani.”
Tanpa mengucap sepatah katapun Holmes bergegas menyewa delman, dan sepanjang 7 mil perjalanan dia menutup mulutnya. Aku melihat dia begitu sedih. Dia nampak gelisah sepanjang perjalanan, membolak-balik koran pagi dengan penuh kecemasan, dan kini terwujudnya apa yang paling dia takutkan membuatnya nampak melankolis. Akhirnya dia menyandarkan punggungnya ke tempat duduk, dan tenggelam dalam pemikiran yang muram.
Sebenarnya banyak pemandangan yang menarik di sekitar kami, karena kami melewati jalan pedesaan yang sepi, nampak beberapa gubuk terpencar disana-sini, dan menara gereja terlihat seperti ditancapkan di hamparan hijau tanah yang luas. Akhirnya muncul lengkung violet dari laut Jerman diatas tepi hijau pantai Norfolk, dan si kusir menunjuk dengan cambuknya kearah dua gapura tua dari bata dan balok kayu yang terlihat di sela-sela pepohonan. “Itu Riding Thorpe Manor,” katanya.
Saat delman kami menuju serambi pintu depan, aku melihat disamping lapangan tenis, terdapat gudang berwarna hitam dan jam matahari yang telah kami dengar sebelumnya.
Seorang yang berperawakan agak pendek dan berpakaian necis, dengan gerak yang sigap dan kumis rapi menyambut kami. Dia memperkenalkan diri sebagai Inspektur Martin, dari kepolisian Norfolk, dan dia keheranan begitu mendengar nama temanku.
“Wah, Mr. Holmes, peristiwanya baru terjadi jam tiga tadi pagi. Bagaimana bisa anda mendengar hal ini di London dan datang kemari secepat saya?”
“Saya mengantisipasi hal ini. Saya datang bermaksud mencegah terjadinya peristiwa ini.”
“Kalau begitu anda pasti mengetahui suatu bukti penting, yang terlewatkan oleh kami, karena orang bilang mereka adalah pasangan yang paling rukun.”
“Saya hanya tahu mengenai gambar orang menari,” kata Holmes. “Saya akan menjelaskan hal itu nanti. Sementara itu, karena sudah terlambat untuk mencegah terjadinya hal ini, saya harus mempergunakan informasi yang saya ketahui untuk memastikan agar keadilan ditegakkan. Apakah anda bisa melibatkan saya dalam penyelidikan anda, atau anda lebih suka jika saya bekerja secara independen?”
“Saya akan merasa bangga jika kita bisa bekerjasama, Mr. Holmes,” kata Inspektur dengan bersungguh-sungguh.
“Bila demikian maka saya perlu mendengarkan informasi dan mengumpulkan bukti-bukti tanpa tertunda oleh hal-hal yang tidak perlu.”
Inspektur Martin cukup cerdik untuk membiarkan temanku melakukan penyelidikan dan dia tinggal mengikutinya sambil membuat catatan atas bukti-bukti yang diperoleh dari penyelidikan itu. Dokter bedah lokal, seorang tua dengan rambut yang sudah memutih, keluar dari kamar Mrs. Hilton Cubitt, dan dia melaporkan bahwa lukanya memang serius, tapi tidak fatal. Peluru menembus otak depan, dan mungkin perlu waktu cukup lama hingga kesadarannya pulih kembali. Atas pertanyaan apakah Mrs. Cubitt ditembak atau menembak dirinya sendiri, dia tidak berani memberikan kepastian. Yang pasti peluru itu ditembakkan dari jarak dekat. Hanya ada satu pistol yang ditemukan didalam ruangan, dua peluru telah ditembakkan. Mr. Hilton Cubitt ditembak tepat di jantung. Bisa jadi Mr. Cubitt menembak istrinya dan kemudian menembak dirinya sendiri, ataupun sebaliknya, karena revolver tergeletak di lantai diantara keduanya.
“Apakah tubuh Mr. Cubitt sudah dipindahkan?” tanya Holmes.
“Kami tidak memindahkan apapun kecuali sang istri. Kami tidak bisa membiarkan dia menggeletak terluka diatas lantai.”
“Sudah berapa lama anda disini, dokter?”
“Dari jam empat.”
“Ada orang lainnya?”
“Ya, polisi juga sudah disini.”
“Dan anda tidak menyentuh apapun?”
“Tidak”
“Anda telah bertindak dengan bijak. Siapa yang memanggil anda?”
“Pembantu rumah, Mrs. Saunders.”
“Apakah dia yang pertama kali masuk ke tempat kejadian?”
“Dia dan Mrs. King, tukang masak.”
“Dimana mereka sekarang?”
“Di dapur saya kira.”
“Kalau begitu sebaiknya kita dengar cerita mereka segera.”
Aula berjendela tinggi dengan panel kayu itu segera berubah menjadi ruang investigasi. Holmes duduk di kursi antik yang besar, matanya yang tanpa kompromi memancar dari wajahnya yang kurus. Aku bisa melihat dari situ terpancar suatu tekad untuk membaktikan hidupnya dalam penyelidikan ini hingga kliennya yang gagal dia selamatkan paling tidak mendapatkan keadilan. Sisanya, Inspektur Martin, dokter lokal berambut putih, saya sendiri, dan seorang petugas polisi yang pendiam, menggerombol terpisah.
Dua orang perempuan itu cukup lancar menuturkan kisahnya. Mereka terbangun dari tidur oleh suara ledakan keras, yang diikuti oleh suara ledakan kedua beberapa menit kemudian. Kamar tidur mereka berdampingan, dan Mrs. King segera masuk ke kamar Mrs. Saunders. Berdua mereka menuruni tangga. Pintu ruang belajar terbuka, dan sebatang lilin menyala diatas meja. Majikan mereka tergeletak tengkurap di tengah ruangan. Dia sudah mati. Dekat jendela istrinya meringkuk, kepalanya menyandar ke dinding. Dia terluka parah, sisi wajahnya merah oleh darah. Napasnya terputus-putus, dan tidak mampu bicara. Sepanjang lorong hingga ke ruang belajar penuh asap dan bau mesiu. Jendela jelas tertutup dan terkunci dari dalam. Kedua perempuan itu sangat yakin dan menegaskan situasi tersebut. Mereka segera menghubungi dokter dan polisi. Kemudian, dengan bantuan para pelayan pria mereka memindahkan majikan perempuan yang terluka ke kamarnya. Tak ada lagi yang dipindahkan di ruang belajar. Sejauh yang mereka tahu, tidak pernah ada pertengkaran antara suami dan istri, selalu rukun.
Demikianlah poin utama bukti-bukti yang didapat dari para pelayan. Menjawab pertanyaan Inspektur Martin, mereka menegaskan bahwa semua pintu terkunci dari dalam, dan tak ada yang keluar dari rumah. Menjawab pertanyaan Holmes, mereka berdua ingat telah mencium bau mesiu dari sejak mereka keluar dari kamar mereka di lantai atas.
“Fakta ini sungguh sangat penting untuk anda perhatikan,” kata Holmes kepada teman profesionalnya. “Dan kini saya kira kita sudah siap untuk menyelidiki ruang kejadian.”
Ruang belajar itu cukup kecil, tiga sisi dinding dipenuhi buku, dan ada sebuah meja tulis di dekat jendela yang menghadap ke taman. Perhatian kami pertama kali tertuju pada tubuh besar yang tengkurap di tengah ruangan. Baju tidurnya yang tidak dikenakan dengan benar menunjukkan bahwa dia tergesa-gesa bangun dari tidur. Peluru ditembakkan kearahnya dari depan, dan bersarang didalam tubuhnya, setelah menembus jantung. Kematiannya berlangsung cepat dan tanpa rasa sakit.
“Saya sarankan,” kata Holmes, “agar tubuh Mr. Cubitt dipindahkan sekarang. Saya menduga, dokter, anda tidak menemukan peluru yang melukai si wanita?”
“Harus dilakukan operasi serius untuk menemukannya. Tapi masih ada empat peluru didalam revolver. Yang dua telah ditembakkan dan dua luka telah terjadi, jadi kedua peluru telah jelas kemana sasarannya.”
“Memang seperti itu nampaknya,” kata Holmes. “Mungkin anda bisa menjelaskan juga dari mana asal peluru yang telah melesak di sisi jendela?”
“Demi Tuhan!” seru Inspektur terkejut. “Bagaimana mungkin anda bisa menemukannya?”
“Karena saya sengaja mencarinya di sekitar situ.”
“Bukan main!” kata si dokter lokal. “Anda benar sekali, tuan. Dengan demikian ada tembakan ketiga yang telah dilepaskan, dan berarti pasti ada orang ketiga yang muncul. Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi, dan bagaimana pula perginya?”
“Itulah masalah yang sedang kita cari jawabannya,” kata Sherlock Holmes. “Anda ingat, Inspektur Martin, ketika pelayan mengatakan, saat keluar dari kamar mereka langsung mencium bau mesiu, saya katakan bahwa informasi itu sangat penting?”
“Ya, tuan; tapi terus terang saya tidak tahu artinya.”
“Itu berarti bahwa saat terjadi tembakan, jendela dan pintu ruang belajar dalam keadaan terbuka. Jika tidak maka asap mesiu tidak akan bisa menyebar begitu cepat ke seluruh rumah. Diperlukan hembusan dari ruang belajar agar hal itu terjadi. Tapi kedua pintu dan jendela hanya terbuka dalam waktu singkat.”
“Bagaimana anda membuktikan hal itu?”
“Karena lilinnya tidak sampai padam.”
“Bukan main!” seru Inspektur. “Cerdas!”
“Dengan keyakinan bahwa jendela terbuka saat terjadi tragedi, saya menduga bahwa ada orang ketiga dalam peristiwa ini, yang berdiri diluar jendela yang terbuka dan menembak kedalam. Setiap tembakan yang ditujukan ke orang ini bisa saja mengenai kusen jendela. Saya cari, dan benar ketemu lubang bekas peluru menembus!.”
“Tapi bagaimana jendela bisa tertutup dan terkunci?”
“Itu adalah insting pertama perempuan untuk menutup dan mengunci jendela. Tapi, hai! Apa ini?”
Itu adalah tas-tangan wanita yang tergeletak diatas meja belajar – sebuah tas-tangan yang terbuat dari kulit buaya dan perak. Holmes membukanya dan mengeluarkan isinya, yaitu uang sebanyak 25 pound yang digulung dan diikat dengan karet gelang, cuma itu.
“Ini harus disimpan, untuk bukti di persidangan,” kata Holmes sambil memberikan tas beserta isinya kepada Inspektur.
“Sekarang kita perlu bukti mengenai peluru ketiga, yang nampak jelas, dari serpihan kayu yang ada, telah ditembakkan dari dalam. Saya ingin menanyai lagi Mrs. King, si juru masak. Anda bilang, Mrs. King, bahwa anda terbangun oleh ledakan keras. Waktu anda mengatakan hal itu, apakah yang anda maksud bahwa ledakan yang pertama terdengar lebih keras daripada yang kedua?”
“Wah, tuan, saya saat itu baru terbangun dari tidur, jadi sulit untuk memastikan. Sepertinya sangat keras suaranya.”
“Anda tidak memiliki dugaan bahwa suara keras itu mungkin berasal dari dua tembakan yang dilepaskan hampir bersamaan?”
“Saya tidak tahu, tuan.”
“Saya yakin itulah yang terjadi. Saya kira, Inspektur Martin, kita telah selesai menyelidiki ruangan ini. Jika anda sudi menemani saya, kita akan mencari bukti-bukti baru di taman.”
Hamparan bunga tumbuh di sisi luar jendela ruang belajar, dan kami semua terkejut saat mendekati hamparan tersebut. Bunganya terinjak-injak, dan tanahnya yang lunak mencetak tapak kaki. Tapak yang besar dan maskulin, dengan jari-jari yang panjang. Holmes tengah mencari-cari diantara rumput dan dedaunan seperti seorang pemburu mencari burung yang tertembak. Kemudian, sambil berseru girang, ia membungkuk dan memungut sebutir logam kecil.
“Seperti yang saya duga,” katanya, “ini dia peluru ketiga. Saya kira, Inspektur Martin, kasus kita sudah hampir selesai.”
Wajah Inspektur menyiratkan kekaguman atas perkembangan penyelidikan Holmes yang cepat dan akurat. Awalnya dia bersikap ragu, tapi kini berganti dengan kekaguman, dan siap mengikuti tanpa banyak tanya kemanapun Holmes mengarahkan.
“Siapa yang anda curigai?” tanyanya.
“Saya akan sampai kesana nanti. Ada beberapa masalah yang belum bisa saya jelaskan kepada anda. Sekarang setelah sampai sejauh ini, sebaiknya saya melanjutkan pekerjaan saya, dan kemudian menjelaskan keseluruhan masalah sekaligus.”
‘Silakan saja, Mr. Holmes, asal pelakunya tertangkap.”
“Saya tidak bermaksud membuat misteri, tapi sungguh tidak mungkin saat ini untuk membuat penjelasan yang panjang dan rumit. Sebaiknya seluruh urusan ini tetap ditangan saya. Bahkan apabila si wanita tetap tidak pulih kesadarannya, kita akan tetap bisa merekonstruksi kejadian tadi malam dan memastikan agar keadilan ditegakkan. Pertama-tama, saya ingin tahu apakah ada penginapan di sekitar sini yang bernama Elrige’s?”
Para pelayan saling bertanya-tanya, tapi tidak satupun yang mengetahui tempat itu. Kemudian si kacung kebun ingat bahwa ada seorang petani dengan nama demikian tinggal beberapa mil kearah East Ruston.
“Apakah itu pertanian yang sepi?”
“Sangat sepi, tuan”
“Jadi mungkin mereka belum mendengar semua yang terjadi disini semalam?”
“Mungkin tidak, tuan.”
Holmes berpikir sejenak dan kemudian suatu senyum misterius bermain diwajahnya.
“Siapkan kudamu, nak,” katanya. “Saya ingin kamu membawa surat ke pertanian Elrige’s.”
Dari sakunya ia mengambil semua gambar orang menari. Dengan semua lembaran itu dihadapannya, ia bekerja beberapa lama di meja belajar. Akhirnya ia memberikan kertas kepada kacung kebun, dengan pesan agar memberikan kertas itu kepada orang yang alamatnya tertulis di kertas itu, dan berpesan wanti-wanti untuk tidak menjawab semua pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Aku melihat dibalik kertas itu, alamatnya ditulis dengan huruf aneh, yang bukan kebiasaannya Holmes menulis. Ditujukan kepada Mr. Abe Slaney, Elrige’s Farm, East Ruston, Norfolk.
“Saya kira, Inspektur,” Holmes menyarankan, “sebaiknya anda segera minta bala bantuan, karena, jika perkiraan saya benar, anda akan membawa tahanan yang berbahaya untuk dimasukkan ke penjara. Pelayan yang membawa pesan ini akan juga mengantarkan telegram anda. Jika ada kereta yang berangkat siang ini ke kota, Watson, sebaiknya kita mengambilnya, karena penyelidikan ini sudah hampir selesai.”
Ketika si kacung kebun telah berangkat, Sherlock Holmes memberikan instruksi kepada para pelayan, jika ada pengunjung yang datang menanyakan Mrs. Hilton Cubitt, tidak boleh ada yang menceritakan kondisinya, tapi justru segera diantarkan ke ruang tamu. Ia berulang-ulang menekankan pentingnya pesan ini kepada para pelayan, hingga mereka mengerti betul. Akhirnya dia mengajak kita semua ke ruang tamu, dan mengatakan bahwa penyelidikan telah selesai. Masing-masing melanjutkan urusannya. Si dokter lokal juga pergi menengok pasiennya, dan hanya Inspektur dan saya yang masih tinggal.
“Saya kira sekarang saya bisa memberikan penjelasan yang lengkap kepada anda,” kata Holmes sambil menarik kursi menghadap meja, dan menata semua gambar orang menari dihadapannya.
“Kepada anda, Watson, saya hutang penjelasan karena telah membiarkan keingin-tahuanmu tersimpan cukup lama. Kepada anda, Inspektur, seluruh insiden ini akan menjadi bahan kajian profesional. Saya harus katakan bahwa seluruh kejadian ini berkaitan dengan konsultasi antara Mr. Hilton Cubitt dan saya di Baker Street.”
Ia kemudian menjelaskan secara ringkas peristiwa di Baker Street.
“Dihadapan saya adalah gambar, yang mungkin membuat orang yang melihatnya tersenyum, tapi justru merupakan awal dari terjadinya tragedi yang mengerikan ini. Saya sangat mengenal semua bentuk tulisan rahasia, tapi saya akui bahwa gambar-gambar ini merupakan sesuatu yang baru bagi saya. Tujuan gambar ini adalah menyampaikan pesan, dan sekaligus membuat orang berpikir bahwa gambar itu cuma sekedar coretan acak seorang anak kecil.
“Tapi sekali orang melihat bahwa simbol ini mewakili huruf, dan menerapkan semua aturan yang menuntun kita pada semua bentuk tulisan rahasia, jawabannya menjadi cukup mudah. Pesan pertama yang saya terima terlalu pendek sehingga tidak mungkin memecahkan semuanya, kecuali mengatakan bahwa simbol
mewakili huruf E. Seperti yang anda ketahui, E adalah huruf yang paling umum di alfabet Inggris, dan yang muncul paling sering bahkan di kata yang paling pendek. Dari 15 simbol di pesan pertama, ada 4 yang sama. Jadi sangat masuk akal untuk menebak simbol itu sebagai huruf E. Simbol itu ada yang memegang bendera, ada yang tidak. Dari caranya bendera itu terdistribusi, saya menduga bahwa bendera itu digunakan untuk memutus kalimat menjadi perkata. Saya ambil ini sebagai dugaan, dan menganggap bahwa E diwakili dengan simbol
Setelah itu saya masuk ke bagian paling sulit dari teka-teki ini, Huruf T,A,O,I,N,S,H,R,D, dan L biasanya muncul dengan jumlah yang sama dalam kalimat Inggris. Suatu pekerjaan yang tidak mungkin untuk mencoba tiap-tiap huruf, jadi saya menunggu contoh baru kode tersebut. Dalam pertemuan saya yang kedua dengan Mr.Cubbit, saya mendapat kode 2 kalimat baru dan satu pesan yang nampaknya berupa satu kata, karena tidak ada bendera, sekarang saya punya huruf E di simbol kedua dan keempat dari 5 huruf. Ini bisa bunyi ‘sever’, atau ‘lever’, atau ‘never’. Karena saya yakin bahwa pesan ini adalah jawaban dari pesan sebelumnya, saya tebak bahwa kata itu adalah ‘tidak’ ( never ). Jadi sekarang saya menebak bahwa simbol
mewakili huruf N, V, dan R. Di pesan ketiga pada kata kedua ada 5 huruf dengan 2 E muncul di awal dan di akhir kata. Terlintas dalam pikiran saya, jika pesan ini muncul dari seorang yang intim dengan si wanita di masa lalunya, maka kombinasi 2E dengan 3 huruf bisa membentuk nama ‘Elsie’, yaitu nama wanita yang menjadi tujuan pesan ini. Pesan ini muncul 3 kali. Ini jelas suatu permintaan kepada Elsie. Dari sini saya memperoleh huruf L, S, dan I. Tapi apa isi permintaan itu? Cuma ada 4 huruf dan diakhiri dengan E, kata itu pasti ‘come’. Saya mencoba 4 huruf lain dengan akhiran E, tapi tak ada yang cocok. Jadi sekarang saya punya huruf C, O, dan M, dan saya siap menebak pesan pertama sekali lagi. Dengan memisahkan per kata dan menggunakan titik untuk tiap huruf yang belum diketahui, pesannya jadi seperti ini :
.M .ERE ..E SL.NE.
Saya sadar bahwa huruf pertama pasti A, karena muncul 3 kali dalam pesan ini. Dan huruf H di kata kedua. Jadinya :
AM HERE A.E SLANE.
Kata ketiga dan keempat sepertinya sebuah nama, nama Amerika. Jadinya :
AM HERE ABE SLANEY
Sekarang saya punya cukup huruf untuk menebak pesan kedua :
A. ELRI.ES
Pesan ini hanya memiliki arti jika kita menambahkan huruf T dan G di tempat huruf yang belum diketahui dan nama itu sepertinya adalah nama rumah atau hotel dimana si penulis tinggal.”
Inspektur Martin dan aku terkagum-kagum melihat cara Holmes memecahkan teka-teki orang menari.
“Lalu apa yang anda lakukan, pak?” tanya inspektur.
“Saya sangat yakin bahwa Abe Slaney ini adalah orang Amerika karena Abe adalah nama umum di Amerika dan karena Surat dari Amerika merupakan awal dari semua masalah ini. Karena masa lalu si wanita dirahasiakan dan dia menolak berbagi rahasia dengan suaminya, maka saya menduga bahwa Slaney ini pasti seorang kriminal dan mungkin terlibat urusan dengan polisi. Dengan menduga demikian, saya mengirim telegram ke teman saya, Wilson Hargreave, dari kantor kepolisian New York City. Saya tanya apakah nama Abe Slaney dikenal olehnya. Jawabannya adalah : ‘Penjahat paling berbahaya di Chicago’. Pada saat yang sama, Hilton Cubitt mengirim saya pesan terakhir dari Slaney. Dengan menggunakan huruf-huruf yang telah saya punya, pesannya jadi seperti ini:
ELSIE .RE.ARE TO MEET THY GO.
Dengan menambahkan huruf P dan D pada pesan diatas maka pesan itu menjadi lengkap, yang menunjukkan bahwa si penjahat melanjutkan upayanya dari membujuk menjadi mengancam, pengetahuan saya mengenai penjahat Chicago membuat saya khawatir bahwa penjahat ini akan mewujudkan kata-katanya menjad tindakan. Jadi saya segera berangkat ke Norfolk bersama teman saya Dr.Watson, tapi sayangnya hal terburuk telah terjadi”.
“Sungguh suatu kehormatan bisa bersama anda menangani kasus ini,” kata inspektur dengan hangat. “Akan tetapi maafkan saya sebelumnya, jika saya berkata terus terang kepada anda. Anda cuma bertanggung jawab kepada diri anda sendiri, tetapi saya harus bertanggung jawab kepada atasan saya. Jika Abe Slaney ini, yang tinggal di Elrige’s, memang benar pembunuhnya, dan jika ia melarikan diri sementara saya duduk disini, saya pasti mendapat masalah serius.”
“Anda tidak perlu gelisah. Dia tidak akan melarikan diri.”
“Bagaimana anda tahu?”
“Melarikan diri akan merupakan pengakuan bersalah.”
“Kalau begitu mari kita pergi menangkapnya.”
“Saya sedang menunggu kedatangannya kemari tiap saat.”
“Tapi mengapa dia datang kemari?”
“Karena saya telah menulis pesan kepadanya dan memintanya datang kemari.”
“Tapi ini sungguh tidak masuk akal, Mr.Holmes! Kenapa dia mesti datang hanya karena anda memintanya? Bukankan permintaan anda akan membangkitkan kecurigaannya dan menyebabkan dia melarikan diri?”
“Saya kira saya telah menulisnya dengan sangat hati-hati,” kata Sherlock Holmes. “Lagi pula, jika saya tidak keliru jauh, ini dia orangnya yang kita tunggu sedang menuju kemari.”
Seorang pria melangkah melewati jalan menuju pintu depan. Dia orang yang tinggi, tampan, berkulit gelap, mengenakan setelan abu-abu, dengan topi Panawa, jenggotnya hitam lurus, hidung mancung melengkung, dan berjalan dengan membawa tongkat. Ia berjalan seolah tempat itu adalah miliknya, dan kami mendengar dia menekan bel dengan keras dan percaya diri.
“Saya kira, saudara-saudara,” kata Holmes pelan, “kita sebaiknya menempati posisi dibelakang pintu. Setiap tindakan pencegahan diperlukan jika kita berurusan dengan orang ini. Anda akan memerlukan borgol anda, Inspektur. Anda tidak perlu menunggu komando saya untuk bertindak.”
Kami menunggu dalam hening selama satu menit – satu diantara menit-menit yang seseorang takkan pernah lupa.
Kemudian pintu terbuka dan orang itu masuk. Secara mendadak Holmes mengacungkan pistol ke kepalanya, dan Martin menjeratkan borgol ke pergelangan tangannya. Semua dilakukan dengan cepat dan trampil sehingga orang itu terlambat menyadari bahwa ia baru saja diserang. Ia memandang tajam dari satu ke yang lain dari kami dengan sepasang mata hitamnya yang menyala. Dan kemudian ia tergelak dengan nada yang getir.
“Yah, tuan-tuan, anda telah menjatuhkan saya kali ini. Saya kira saya akan menghadapi sesuatu yang sulit. Tapi saya datang kemari memenuhi undangan Mrs.Hilton Cubitt. Jangan bilang dia yang mendalangi semua ini? Jangan bilang bahwa dia membantu memasang jebakan ini?”
“Mrs.Hilton Cubitt terluka sangat parah, dan sedang berada di pintu kematian.”
Orang itu menggerung sedih, demikian kerasnya hingga suaranya memenuhi rumah.
“Kalian gila!” teriaknya dengan ganas. “Suaminyalah yang terluka, bukan dia. Siapa yang akan melukai si kecil Elsie? Saya mungkin mengancamnya –- Ya Tuhan, ampuni aku! — tapi saya tak akan menyentuh sehelai rambutpun di kepalanya. Tarik kembali kata-katamu! Katakan bahwa dia tidak terluka!”
“Dia ditemukan terluka parah, di sisi mayat suaminya.”
Dia tenggelam dalan rintihan kesedihan di atas bangku, dan mengubur wajahnya ke dalam kedua tangannya yang terbelenggu. Selama 5 menit dia diam. Kemudian dia mengangkat wajahnya, dan bicara dengan nada putus asa.
“Tidak ada yang saya sembunyikan dari anda, tuan-tuan, “katanya. “Saya menembak pria itu karena dia menembak saya, jadi tidak ada pembunuhan disini. Tapi jika anda pikir saya melukai wanita itu, maka anda tidak tahu apa-apa mengenai saya ataupun dia. Saya katakan pada anda, tidak ada seorangpun di dunia ini yang mencintai seorang wanita melebihi cinta saya kepadanya. Saya punya hak atas dia. Dia telah berjanji kepada saya bertahun-tahun lalu. Siapa orang Inggris ini yang menyeruak masuk diantara kami? Saya tegaskan bahwa saya punya hak pertama kali atas dia, dan saya hanya menuntut balik milik saya.”
“Dia memutuskan untuk lepas dari pengaruh anda ketika dia tahu orang macam apa anda,” kata Holmes. “Dia terbang dari Amerika untuk menghindari anda, dan dia menikah dengan seorang pria Inggris yang disegani. Anda membuntuti dia dan mengikuti dia dan membuat hidupnya jadi menyedihkan. Anda membujuk dia agar meninggalkan suami yang dia cintai dan dia hormati dengan maksud agar mau terbang bersama anda, yang jelas dia takuti dan dia benci. Anda mengakhirinya dengan membawa kematian pada seorang pria terhormat dan memicu istrinya untuk bunuh diri. Itulah yang terekam dari anda, Mr.Abe Slaney, dan anda akan menghadapi hal ini di persidangan.”
“Jika Elsie mati, aku tidak perduli lagi apa yang terjadi pada diriku, “kata orang Amerika itu. Dia membuka salah satu tangannya, dan memandangi gumpalan kertas di telapaknya.
“Lihat ini, tuan,” serunya, dengan secercah kecurigaan di matanya, “anda tidak sedang mencoba menakut-nakuti saya, kan? Jika si wanita terluka separah yang anda katakan, lalu siapa yang menulis pesan ini?” Ia melemparkan gumpalan kertas itu ke atas meja.
“Saya yang menulis, untuk membawa anda kemari.”
“Anda menulisnya? Tidak ada seorangpun di muka bumi ini di luar kelompok kami yang tahu rahasia orang menari. Bagaimana mungkin anda menulisnya?”
“Apa yang orang bisa ciptakan , yang lain bisa memecahkannya,” kata Holmes. ” Akan ada kendaraan datang untuk membawa anda ke Norwich, Mr.Abe Slaney. Tapi, sementara itu, anda punya waktu untuk membuat perbaikan kecil atas kerusakan yang telah anda timbulkan. Apakah anda menyadari bahwa Mrs.Hilton Cubitt menjadi tertuduh atas kematian suaminya, dan hanya kehadiran saya disini, dan informasi yang saya miliki, yang menyelamatkannya dari tuduhan? Hal terakhir yang anda bisa lakukan untuk membantunya adalah menjelaskan pada dunia bahwa dia, secara langsung ataupun tidak, sama sekali tidak bertanggung jawab atas akhir tragis suaminya.”
“Saya tidak pernah menyangka bahwa kecurigaan akan jatuh kepadanya, “kata orang Amerika itu. “Saya kira hal paling baik yang bisa saya lakukan adalah menceritakan seluruh kebenarannya.”
“Sudah menjadi tugas saya untuk memperingatkan anda bahwa cerita anda bisa digunakan untuk menjatuhkan anda,” kata inspektur.
Slaney mengangkat bahunya.
“Saya tahu resiko itu,” katanya, “Pertama-tama, saya ingin anda semua tahu bahwa saya mengenal wanita ini sejak ia masuh anak-anak. Ada 7 orang anggota kelompok kami di Chicago, dan ayah Elsie adalah pemimpinnya. Dia adalah seorang yang cerdas, si Patrick tua. Dialah yang mencuptakan tulisan itu, yang nampak seperti mainan anak-anak kecuali anda memiliki kuncinya. Yah, Elsie mempelajari beberapa cara hidup kami, tapi dia tidak tahan dengan cara seperti itu, dan dia minggat ke London. Dia telah bertunangan dengan saya, dan saya yakin dia akan menikahi saya, jika saya berganti profesi. Hanya sesudah pernikahannya dengan orang Inggris ini saya baru bisa menemukan keberadaannya. Saya menulis surat kepadanya, tapi tidak dijawab. Sesudah itu saya datang kemari, dan, karena surat tidak berhasil, saya tuliskan pesan saya di tempat yang bisa dia baca.
“Yah, saya telah sebulan berada disini. Saya tinggal di pertanian itu, dimana saya mendapat kamar dibawah, dan dapat keluar masuk setiap malam, dan tidak ada seorangpun yang perduli. Saya coba semua yang bisa untuk memancing Elsie keluar. Saya tahu bahwa dia telah membaca pesan saya, karena sekali dia menulis jawabannya di bawahnya. Kemudian saya mulai tidak sabar, dan saya mencoba mengancamnya. Kemudian ia mengirimi saya surat, memohon dengan sangat agar saya pergi, dan mengatakan bahwa dia akan patah hati jika sampai ada skandal yang menimpa suaminya. Dia bilang dia akan turun ke bawah ketika suaminya sudah lelap jam 3 pagi dan bicara dengan saya lewat jendela, jika saya mau pergi setelah itu dan meninggalkannya. Dia turun dan membawa uang, mencoba menyuap saya agar pergi. Ini membuat saya marah, saya tangkap tangannya dan mencoba menariknya keluar jendela. Tepat pada saat itu muncul si suami dengan revolver ditangannya. Elsie tiarap diatas lantai, dan kami berhadap-hadapan. Saya cabut senjata saya untuk menakut-nakutinya dan membiarkan saya pergi. Dia menembak saya tapi meleset. Saya menarik picu hampir bersamaan, dan dia jatuh. Saya lari menyeberangi taman dan ketika saya beranjak pergi saya dengar jendela ditutup di belakang saya. Itulah kebenarannya, tuan-tuan, dan saya tidak mendengar apa-apa lagi sampai si pesuruh datang dengan surat yang membuat saya melangkah kesini.”
Sebuah kendaraan memasuki halaman sementara orang Amerika itu bicara. Dua orang polisi berseragam duduk didalamnya. Inspektur Martin bangkit dan menyentuh pundak tahanannya.
“Saatnya bagi kita untuk pergi.”
“Bisakah saya menjenguknya sejenak?”
“Tidak, dia masih belum sadar. Mr.Sherlock Holmes. Saya hanya berharap bahwa, jika ada lagi kasus penting yang saya tangani, saya akan merasa beruntung sekali jika anda ada di sisi saya.”
Kami berdiri di jendela dan menyaksikan kendaraan itu pergi. Ketika aku berbalik, mataku menangkap gumpalan kertas yang dilemparkan tahanan ke atas meja. Itu adalah pesan yang ditulis Holmes untuk mengecohnya.
“Coba lihat apa kamu bisa membacanya, Watson,” katanya sambil tersenyum.
Tidak ada kata-kata yang tertulis, cuma sederet gambar orang menari :
“Jika kamu gunakan kode yang telah kujelaskan,” kata Holmes, “kamu akan menemukan pesan itu terbaca ‘datang kemari segera’ (come here at once). Aku yakin bahwa itu adalah undangan yang tidak dapat dia tolak, karena tidak akan pernah terbayangkan dalam pikirannya bahwa pesan itu bisa datang dari orang lain kecuali si wanita. Dan begitulah, kawanku Watson, kita mengakhirinya dengan menggunakan orang menari untuk kebaikan setelah begitu sering digunakan untuk kejahatan, dan aku kira aku telah memenuhi janjiku untuk memberimu suatu bahan cerita yang unik. Kereta kita jam 3.40, dan aku membayangkan kita kembali ke Baker Street untuk makan malam.”
Hanya satu kata yang tersisa. Orang Amerika itu, si Abe Slaney, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Norwich, tapi kemudian dirubah menjadi hukuman kerja paksa karena pertimbangan mitigasi dan karena Hilton Cubitt yang menembak duluan. Mengenai Mrs.Hilton Cubitt aku hanya dengar bahwa dia berhasil pulih secara keseluruhan, dan bahwa ia tetap menjanda, membaktikan seluruh hidupnya mengurusi orang miskin dan mengurus peninggalan suaminya.
Tamat
Poppy Crime
23 Februari 2011
During the dance, twelve men move aggressively while twelve women sing and sway from side to side. Poppy Crime